Agustiar Sabran Luruskan Maksud “Bercerai Kita Kawin Lagi”: Jangan Sibuk Cari Siapa yang Salah
- account_circle fe
- calendar_month Sel, 13 Okt 2026
- visibility 29
- comment 0 komentar

Dok. Gubernur Kalteng Agustiar Sabran saat diwawancarai
DAYABORNEO, Palangka Raya – Gubernur Kalimantan Tengah Agustiar Sabran menjelaskan maksud di balik ucapannya, “Bersatu kita teguh, bercerai kita kawin lagi,” yang belakangan menjadi perbincangan publik. Ia menegaskan, kalimat tersebut merupakan candaan untuk mengingatkan pentingnya kebersamaan, bukan ajakan untuk memperdebatkan persoalan.
Agustiar menyampaikan penjelasan itu saat menanggapi berbagai persoalan yang muncul di tengah penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah.
Menurutnya, situasi yang dihadapi daerah tidak seharusnya membuat berbagai pihak sibuk mencari kesalahan satu sama lain. Yang lebih dibutuhkan adalah kemauan bersama untuk menemukan solusi.
“Lihat di mana-mana itu memperdebatkan, mempermasalahkan. Habis itu apa namanya? Siapa yang salah? Terus berdebat terus, ya kan? Enggak ada lagi waktu kita begitu,” ujarnya, saat diwawancara di Kantor Gubernur setempat, Senin (12/10/2026) siang.
Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk mengesampingkan perselisihan dan memperkuat kerja sama. Agustiar menilai, kebersamaan akan membantu berbagai pihak mengantisipasi persoalan yang berdampak terhadap kehidupan masyarakat.
“Kalau kita bersatu kita kuat sehingga ada kebersamaan kita. Semua mudah mengantisipasi hal-hal begini. Tapi diiringi dengan niat dan kemauan dan kesadaran kita. Itu maksudnya,” katanya.
Agustiar kemudian menegaskan bahwa ungkapan yang menjadi perhatian publik tersebut memang dilontarkan sebagai candaan.
“Jadi ada kebakaran begini samalah kadang-kadang kami bercanda sebenarnya, kami bercanda aja. Bersatu kita teguh, bercerai kita kawin lagi. Maksudnya bercanda,” ungkapnya.
Ia juga menyinggung kemungkinan adanya pihak yang belum puas dengan hasil kontestasi politik. Namun, dalam wawancara tersebut, Agustiar tidak menjelaskan lebih jauh siapa yang dimaksud.
Bagi Agustiar, inti persoalannya bukan terletak pada perdebatan mengenai siapa yang benar atau salah, melainkan bagaimana semua pihak dapat bergerak bersama.
Ia mengingatkan bahwa ketika perbedaan terus dipertajam dan kerja sama diabaikan, masyarakat justru berisiko menjadi pihak yang paling dirugikan.
“Kalau kita cerai-berai yang korban siapa?” ucapnya.
Pernyataan itu sekaligus menjadi penegasan atas pesan yang ingin disampaikannya: menghadapi persoalan daerah membutuhkan persatuan, kesadaran, dan tindakan nyata, bukan perdebatan tanpa ujung. (fe)
- Penulis: fe

Saat ini belum ada komentar