Tak Terkendali! Inflasi Kalteng Sentuh 3,5 Persen, Harga Pangan Terus Menekan Masyarakat
- account_circle fe
- calendar_month 23 menit yang lalu
- visibility 15
- comment 0 komentar

Foto. Ilustrasi
DAYABORNEO, Palangka Raya – Kenaikan harga kebutuhan masyarakat di Kalimantan Tengah belum menunjukkan tanda mereda. Hingga Oktober 2026, inflasi tahun kalender telah mencapai 3,5 persen atau menyentuh batas atas sasaran inflasi nasional. Sementara inflasi tahunan bahkan menembus 5,19 persen.
Angka tersebut menjadi perhatian karena tekanan harga paling besar justru berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Artinya, kenaikan harga tidak hanya terjadi pada komoditas tertentu, tetapi menyentuh kebutuhan yang setiap hari dikonsumsi masyarakat.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Tengah, Toto Haryanto Silitonga, mengungkapkan kondisi tersebut dalam konferensi pers Berita Resmi Statistik di Ruang Vicon BPS Provinsi Kalteng, Senin (2/11/2026) siang.
Toto mengingatkan, capaian inflasi tahun kalender sebesar 3,5 persen itu terjadi ketika tahun 2026 masih menyisakan dua bulan. Sasaran inflasi nasional sendiri berada pada kisaran 2,5 persen plus minus 1 persen, dengan batas atas 3,5 persen.
“Namun, sampai dengan bulan Oktober sudah mencapai 3,5 persen. Ini warning ya sebenarnya,” kata Toto.
Peringatan tersebut bukan tanpa alasan. Hingga Oktober, kelompok makanan, minuman, dan tembakau mencatat inflasi 5,69 persen dengan andil sebesar 2,24 persen terhadap inflasi tahun kalender Kalimantan Tengah.
Beras menjadi penyumbang terbesar dengan andil 0,69 persen. Disusul daging ayam ras 0,34 persen, bensin 0,29 persen, ikan patin 0,14 persen, dan minyak goreng 0,13 persen.
Tekanan harga juga terlihat pada perkembangan Oktober. BPS mencatat inflasi bulanan sebesar 0,68 persen dibandingkan September 2026. Dari 11 kelompok pengeluaran, tujuh kelompok mengalami inflasi.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau kembali mendominasi dengan andil 0,62 persen. Daging ayam ras menjadi penyumbang terbesar dengan andil 0,15 persen, disusul ikan nila 0,08 persen, ikan gabus 0,07 persen, cabai rawit 0,04 persen, dan kacang panjang 0,03 persen.
Toto menjelaskan, kenaikan harga pangan berkaitan dengan kemarau panjang yang memengaruhi produktivitas pertanian dan ketersediaan pasokan.
“Kemarau panjang juga terus menghantui kita semua. Tidak cuma di Kalimantan Tengah, tetapi juga di beberapa provinsi yang tentu akan memberikan dampak turunnya produktivitas berbagai komoditas,” ujarnya.
Cabai rawit dan kacang panjang termasuk komoditas hortikultura yang terdampak. Sementara pasokan ikan ikut terpengaruh akibat volume air yang menyusut selama musim kemarau.
Persoalan tidak berhenti pada produksi. Kenaikan harga pakan ternak turut mendorong harga daging ayam ras dan ikan budidaya. Produktivitas ayam juga mengalami gangguan akibat cuaca panas, kabut asap, dan pasokan listrik yang tidak teratur.
Toto turut mengungkap dampak kabut asap terhadap distribusi barang. Jarak pandang yang terbatas membuat perjalanan pengangkutan menjadi lebih panjang, bahkan mengganggu operasional penerbangan.
“Supply chain-nya mulai terganggu sedikit. Harusnya bisa short, bisa jadi panjang, muter-muter dulu,” ungkapnya.
Secara tahunan, inflasi Kalimantan Tengah pada Oktober 2026 mencapai 5,19 persen dibandingkan Oktober 2025. Komoditas yang memberikan andil besar meliputi beras, ikan nila, bensin, cabai rawit, dan emas perhiasan.
Tekanan harga juga terjadi di seluruh wilayah penghitungan inflasi yang dipantau BPS di Kalimantan Tengah. Kabupaten Kapuas mencatat inflasi tahunan tertinggi sebesar 5,87 persen, disusul Kabupaten Sukamara 5,60 persen, Kabupaten Lamandau 4,89 persen, dan Kabupaten Kotawaringin Timur atau Sampit 4,72 persen.
Di tengah kenaikan tersebut, beberapa komoditas mengalami penurunan harga dan memberikan andil deflasi. Di antaranya minyak goreng, bahan bakar rumah tangga, emas perhiasan, angkutan udara, dan bawang merah.
Namun, capaian inflasi tahun kalender sebesar 3,5 persen menunjukkan ruang pengendalian harga sepanjang dua bulan tersisa pada 2026 semakin penting. Terlebih, komoditas pangan masih menjadi sumber tekanan terbesar terhadap inflasi Kalimantan Tengah.
- Penulis: fe

Saat ini belum ada komentar