Anak Krakatau Mengamuk, Empat Bandara Ditutup!
- account_circle fe
- calendar_month Sen, 7 Sep 2026
- visibility 46
- comment 0 komentar

Dok. Ilustrasi
JAKARTA, Dayaborneo – Erupsi Gunung Anak Krakatau mulai mengusik aktivitas penerbangan. Sebaran abu vulkanik dari gunung api di Selat Sunda membuat empat bandara di Jawa dan Lampung menghentikan operasional sementara pada Minggu (6/9) pagi.
Empat bandara yang terdampak yakni Soekarno-Hatta, Halim Perdanakusuma, Radin Inten II, dan Budiarto Curug.
Keputusan tersebut diambil sebagai langkah antisipasi terhadap potensi bahaya abu vulkanik bagi keselamatan penerbangan. Abu dari aktivitas erupsi diketahui mencapai ketinggian yang cukup signifikan dan bergerak mengikuti kondisi angin.
Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau sendiri terus berlangsung sejak Jumat (4/9) malam. Dari hasil pemantauan, aktivitas gunung api tersebut disertai suara gemuruh hingga kemunculan lava fountain.
Data pemantauan satelit Himawari dan VAAC Darwin menunjukkan kolom abu mencapai sekitar 14,6 kilometer di atas permukaan laut atau FL480. Sebarannya bergerak dominan ke arah barat hingga barat daya.
Kondisi ini menjadi perhatian serius karena arah pergerakan abu dapat bersinggungan dengan ruang udara yang menjadi jalur penerbangan menuju dan dari Jakarta serta Lampung.
Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, Ph.D., mengatakan kondisi operasional bandara masih sangat bergantung pada perkembangan sebaran abu.
“Status operasional masing-masing bandara dapat berubah mengikuti perkembangan sebaran abu,” kata Berton.
Dengan demikian, penutupan sementara empat bandara tersebut masih dapat berubah sewaktu-waktu. Bandara bisa kembali beroperasi apabila kondisi dinilai aman, tetapi dapat pula mengalami perpanjangan penutupan apabila abu vulkanik masih mengancam jalur penerbangan.
Di tengah gangguan terhadap transportasi udara, aktivitas penyeberangan laut Merak–Bakauheni masih berjalan normal. Kondisi perairan juga dilaporkan relatif tenang.
BNPB bersama PVMBG, Basarnas, pemerintah daerah dan unsur terkait terus melakukan pemantauan. Masyarakat yang hendak bepergian melalui jalur udara diminta tidak hanya mengandalkan jadwal penerbangan, tetapi juga memastikan informasi terbaru dari operator bandara.
“Warga pengguna jasa penerbangan diharapkan terus memantau informasi terbaru dari operator bandara sebelum bepergian,” ujar Berton.
Ia mengingatkan kondisi abu vulkanik masih dinamis dan dapat berubah cepat mengikuti arah angin serta cuaca. (fe)
- Penulis: fe

Saat ini belum ada komentar