Bupati Gunung Mas Soroti Dampak Kemarau, Bukan Hanya Karhutla yang Mengkhawatirkan
- account_circle fe
- calendar_month Kam, 3 Sep 2026
- visibility 20
- comment 0 komentar

Dok. Bupati Gunung Mas Jaya Samaya Monong setelah menghadiri Rapat Evaluasi Pencegahan dan Penanganan Karhutla di Aula Jayang Tingang
PALANGKA RAYA, Dayaborneo – Ancaman musim kemarau di Kabupaten Gunung Mas ternyata tidak hanya datang dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Ketika titik api masih bisa dikendalikan, persoalan lain mulai muncul: sejumlah sumber air masyarakat perlahan mengering.
Kondisi itu menjadi perhatian Bupati Gunung Mas Jaya Samaya Monong setelah menghadiri Rapat Evaluasi Pencegahan dan Penanganan Karhutla di Aula Jayang Tingang, Kantor Gubernur Kalimantan Tengah, Kamis (3/9/2026).
Rapat yang dipimpin Gubernur Kalteng Agustiar Sabran tersebut diikuti unsur Forkopimda serta kepala daerah dari kabupaten dan kota se-Kalteng. Evaluasi dilakukan di tengah puncak kemarau yang diperkirakan berlangsung pada Agustus-September dan berpotensi berlanjut hingga akhir Oktober atau awal November.
Bagi Gunung Mas, persoalan yang mulai terasa bukan semata bagaimana memadamkan api. Ketersediaan air juga menjadi kebutuhan yang harus segera diantisipasi.
Jaya mengatakan pemerintah daerah membutuhkan dukungan lintas pemerintahan, terutama untuk menyiapkan sumber air alternatif bagi masyarakat di wilayah yang terdampak kemarau.
“Pertama, terkuat koordinasi. Kekurangan memerlukan dukungan dari Pemprov apa saja, misalnya seperti yang disoal oleh Gunung Mas kan pembuatan sumur bor,” kata Jaya.
Ia menjelaskan, kemarau panjang telah membuat kondisi sejumlah sumber air berubah.
“Karena beberapa sumber air yang sebelumnya masih tersedia karena kemaraunya panjang ini jadi mulai kering,” ujarnya.
Selain air bersih, Pemkab Gunung Mas juga mengantisipasi dampak asap terhadap kesehatan. Fasilitas ruang oksigen disiapkan di sejumlah puskesmas dan RSUD Kuala Kurun untuk membantu masyarakat yang membutuhkan penanganan.
Di sisi lain, Jaya memastikan situasi karhutla masih relatif terkendali. Pemerintah daerah mengandalkan respons cepat dengan mengerahkan tim setiap kali ditemukan hotspot.
“Kalau untuk apinya untuk saat ini relatif terkendali, karena begitu ada hotspot langsung tim turun,” katanya.
Meski begitu, tantangan geografis tetap menjadi kendala. Titik api yang berada jauh di dalam kawasan dengan akses sulit membutuhkan waktu lebih lama untuk dijangkau petugas.
“Kalau agak di dalam agak kesulitan, butuh waktu. Tapi sementara ini bisa tertangani, semoga tidak meluas,” pungkasnya. (fe)
- Penulis: fe

Saat ini belum ada komentar