Delapan Desa di Rungan Hulu Menjerit Butuh Air Bersih, Sengkon: Jadi Prioritas Saya
- account_circle fe
- calendar_month Rab, 9 Sep 2026
- visibility 16
- comment 0 komentar

Dok. Anggota Komisi II DPRD Kalimantan Tengah, Sengkon
PALANGKA RAYA, Dayaborneo – Krisis air bersih ternyata masih membayangi warga di pelosok Gunung Mas. Anggota Komisi II DPRD Kalimantan Tengah, Sengkon, mengungkap temuan mengejutkan usai blusukan ke delapan desa di Kecamatan Rungan Hulu saat masa reses.
Politikus Partai Perindo dari Daerah Pemilihan Kalteng I—yang mencakup Kota Palangka Raya, Kabupaten Katingan, dan Gunung Mas—ini membeberkan hasil kunjungannya kepada media, saat ditemui di DPRD Kalteng, Rabu (9/9/2026) siang.
Menurut Sengkon, hampir semua desa yang ia sambangi punya keluhan serupa: air bersih makin sulit didapat. Kondisi ini bahkan dia sebut sudah masuk kategori mengkhawatirkan.
“Sekarang mereka itu berkaitan dengan air bersih sudah riskan keadaannya, sehingga mereka butuh sumur bor. Diminta kepada provinsi ada perhatian berkaitan dengan sumur bor air bersih,” tegas Sengkon.
Tak main-main, ia memastikan persoalan ini bakal jadi catatan teratas dalam laporan resesnya ke DPRD.
“Nanti di laporan hasil riset itu, poin yang pertama saya masukkan dari saya,” ujarnya.
Desa-desa yang menyuarakan keluhan tersebut di antaranya Antapang, Tumbang Tuwe, Tumbang Mujai, Sei Antai, Batu Puter, dan Sangmal. Sengkon menyebut, permintaan warga itu bukan sekadar keluhan lisan—camat setempat pun ikut mendukung dan menyerahkan proposal resmi kepadanya.
Selain krisis air, Sengkon juga menyoroti ancaman kebakaran dan kabut asap yang mengintai wilayah tersebut saat musim kemarau, kondisi yang menurutnya tak jauh berbeda dengan yang dihadapi Palangka Raya.
Bukan cuma soal air dan lingkungan, dunia pendidikan di Rungan Hulu pun butuh perhatian serius. Warga mengusulkan agar kecamatan yang berpenduduk lebih dari 7.000 jiwa itu segera memiliki SMA sendiri.
“Karena tidak ada SMA di kecamatan itu, anak-anak lulusan SMP lari ke Palangka Raya, ke Gunung Mas, atau ke kecamatan-kecamatan lain yang sudah memiliki SMA,” papar Sengkon.
Ia menilai, minimnya akses pendidikan tingkat atas ini berdampak langsung pada masa depan anak-anak di kecamatan tersebut. Karena itu, usulan pendirian SMA turut ia masukkan sebagai agenda prioritas.
“Itu juga menjadi perhatian serius, menjadi prioritas. Itu juga poin yang nanti akan saya sampaikan,” tutupnya. (fe)
- Penulis: fe

Saat ini belum ada komentar