Jumat, 30 Okt 2026
light_mode
Beranda » Artikel » Kenapa Ada Hari Buruh Nasional dan Tetap Relevan Hari Ini

Kenapa Ada Hari Buruh Nasional dan Tetap Relevan Hari Ini

  • account_circle D'Borneo
  • calendar_month Jum, 1 Mei 2026
  • visibility 132
  • comment 0 komentar

Setiap 1 Mei, Indonesia memperingati Hari Buruh Nasional. Bagi sebagian orang, tanggal itu identik dengan hari libur, aksi damai serikat pekerja, atau momentum menyuarakan tuntutan kenaikan upah. Namun di balik penetapan itu, tersimpan sejarah panjang tentang perjuangan buruh, dinamika politik ketenagakerjaan, serta pengakuan negara terhadap peran pekerja sebagai fondasi utama pembangunan nasional. Hari Buruh Nasional lahir bukan sebagai hadiah, melainkan sebagai hasil perjuangan kolektif kelas pekerja yang selama puluhan tahun memperjuangkan hak, keadilan, dan pengakuan sosial.

Jejak peringatan Hari Buruh di Indonesia sebenarnya sudah muncul sejak era kolonial. Catatan sejarah menunjukkan peringatan 1 Mei mulai dikenal di Hindia Belanda pada 1918, ketika organisasi buruh mulai tumbuh di tengah praktik kerja yang keras, upah rendah, dan minim perlindungan hukum. Setelah Indonesia merdeka, pemerintah melalui Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1948 bahkan mengatur hak pekerja, termasuk pengakuan terhadap waktu istirahat dan perlindungan kerja. Namun dinamika politik nasional membuat peringatan Hari Buruh sempat kehilangan ruang, terutama ketika isu perburuhan kerap dikaitkan dengan gerakan politik tertentu pada era Orde Baru.

Momentum besar datang pada 2013. Setelah desakan panjang dari serikat pekerja di berbagai daerah, pemerintah akhirnya menetapkan 1 Mei sebagai hari libur nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 24 Tahun 2013. Kebijakan itu menjadi tonggak penting karena untuk pertama kalinya negara secara resmi menempatkan Hari Buruh sebagai bagian dari kalender nasional—setara dengan hari besar lainnya. Penetapan tersebut bukan hanya simbolis, tetapi juga menandai perubahan cara pandang negara terhadap buruh: dari objek produksi menjadi subjek pembangunan.

Secara ekonomi, alasan keberadaan Hari Buruh Nasional sangat relevan. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan jumlah angkatan kerja Indonesia mencapai lebih dari 149 juta orang dalam beberapa tahun terakhir, dengan mayoritas bekerja di sektor formal maupun informal. Artinya, lebih dari separuh populasi produktif Indonesia menjadi penggerak utama konsumsi rumah tangga, produksi industri, distribusi barang, hingga penerimaan negara melalui pajak dan aktivitas ekonomi. Ketika pekerja sejahtera, daya beli naik; ketika daya beli naik, ekonomi bergerak. Sebaliknya, ketika kesejahteraan pekerja tertekan, konsumsi domestik—yang menjadi tulang punggung ekonomi nasional—ikut melemah.

Analisis ekonomi menunjukkan Hari Buruh Nasional juga memiliki fungsi politik dan sosial. Negara membutuhkan ruang dialog antara pemerintah, pengusaha, dan pekerja agar pertumbuhan ekonomi tidak hanya menghasilkan keuntungan korporasi, tetapi juga distribusi kesejahteraan yang lebih adil.

Mengapa Hari Buruh tetap relevan hari ini? Karena tantangan buruh terus berubah. Jika dulu pekerja melawan jam kerja tak manusiawi, kini mereka menghadapi ancaman baru: otomatisasi, kecerdasan buatan, ekonomi gig, outsourcing tanpa perlindungan, serta ketimpangan upah. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan struktur pasar kerja Indonesia masih didominasi sektor informal, yang berarti jutaan pekerja belum menikmati kepastian pendapatan dan perlindungan sosial memadai. Ini menegaskan bahwa semangat May Day belum selesai; ia hanya berganti wajah.

Karena itu, Hari Buruh Nasional bukan sekadar tanggal merah. Ia adalah simbol pengakuan negara bahwa di balik gedung-gedung tinggi, jalan tol, hasil panen, layanan publik, hingga kemajuan teknologi, ada jutaan pekerja yang bekerja setiap hari menjaga Ekonomi Indonesia tetap bergerak. Dan bangsa yang menghormati buruh, sejatinya sedang membangun masa depan ekonomi yang lebih kuat, inklusif, dan berkeadilan. (red)

  • Penulis: D'Borneo

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • DPR Resmi Sahkan UU Polri

    DPR Resmi Sahkan UU Polri

    • calendar_month Sel, 9 Jun 2026
    • account_circle D'Borneo
    • visibility 75
    • 0Komentar

    DAYABORNEO, Jakarta — Setelah melalui pembahasan panjang dan menyerap berbagai masukan publik, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI akhirnya mengesahkan revisi Undang-Undang Kepolisian Negara Republik Indonesia. Pengesahan tersebut menandai fase baru reformasi kelembagaan Polri yang selama beberapa tahun terakhir menjadi sorotan publik terkait profesionalisme, pengawasan, dan akuntabilitas. Keputusan itu diambil dalam Rapat Paripurna DPR RI di […]

  • Evakuasi Lebah Madu, Damkarmat Palangka Raya Naik ke Menara Telawang

    Evakuasi Lebah Madu, Damkarmat Palangka Raya Naik ke Menara Telawang

    • calendar_month Ming, 16 Agu 2026
    • account_circle fe
    • visibility 84
    • 0Komentar

    PALANGKA RAYA, Dayaborneo — Bukan api yang kali ini harus ditaklukkan. Tim Rescue Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Kota Palangka Raya justru menghadapi tantangan berbeda saat harus mengevakuasi sarang lebah madu yang bersarang di ketinggian sekitar 45 meter. Peristiwa itu terjadi di Menara Tugu Telawang, kawasan Bundaran Besar Palangka Raya, Sabtu (15/8/2026) sore. Laporan […]

  • KPK Bongkar Celah Korupsi Kehutanan, Potensi Kerugian Negara Capai Rp355 Triliun

    KPK Bongkar Celah Korupsi Kehutanan, Potensi Kerugian Negara Capai Rp355 Triliun

    • calendar_month Sab, 2 Mei 2026
    • account_circle D'Borneo
    • visibility 141
    • 0Komentar

    DAYABORNEO, Jakarta – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memperkuat langkah pencegahan korupsi di sektor kehutanan dengan meluncurkan dua kajian strategis yang menyoroti tata niaga kayu dan pelepasan kawasan hutan. Langkah ini dinilai mendesak di tengah besarnya potensi kebocoran penerimaan negara serta masih tingginya angka perkara korupsi yang membelit sektor pengelolaan sumber daya alam tersebut. Peluncuran kajian dilakukan […]

  • DPRD Kalteng “Sentil” Pemprov, Sengketa Tapal Batas dan DOB Dinilai Belum Serius Ditangani

    DPRD Kalteng “Sentil” Pemprov, Sengketa Tapal Batas dan DOB Dinilai Belum Serius Ditangani

    • calendar_month Jum, 15 Mei 2026
    • account_circle D'Borneo
    • visibility 62
    • 0Komentar

    DAYABORNEO, Palangka Raya — DPRD Provinsi Kalimantan Tengah kembali melontarkan kritik terhadap Pemerintah Provinsi Kalteng terkait lambannya penyelesaian sengketa tapal batas wilayah dan minimnya progres pengusulan Daerah Otonomi Baru (DOB). Persoalan itu menjadi salah satu catatan tajam DPRD dalam pembahasan Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Gubernur Kalimantan Tengah Tahun Anggaran 2025 yang disampaikan pada Rapat Paripurna […]

  • Edy Pratowo Salurkan Bantuan KHBS Meski di Tengah Ancaman Karhutla

    Edy Pratowo Salurkan Bantuan KHBS Meski di Tengah Ancaman Karhutla

    • calendar_month Sen, 26 Okt 2026
    • account_circle neha
    • visibility 14
    • 0Komentar

    MAHARATINEWS, Palangka Raya – Di tengah ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla), masyarakat Kabupaten Lamandau menerima bantuan pangan dan Kartu Huma Betang Sejahtera (KHBS) Tahap II dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah. Penyaluran ini disertai layanan kesehatan gratis, pembagian masker, dan vitamin untuk membantu warga menghadapi dampak karhutla. Wakil Gubernur Kalimantan Tengah Edy Pratowo mendatangi tiga […]

  • 21 Bulan Pemerintahan: 14 Capaian Diungkap, Tapi Presiden Minta Jangan Cepat Puas

    21 Bulan Pemerintahan: 14 Capaian Diungkap, Tapi Presiden Minta Jangan Cepat Puas

    • calendar_month Jum, 14 Agu 2026
    • account_circle fe
    • visibility 45
    • 0Komentar

    JAKARTA, Dayaborneo – Presiden Prabowo Subianto membuka sejumlah capaian pemerintah selama 21 bulan bekerja dalam pidato kenegaraan pada Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR RI-DPD RI di Gedung Nusantara, Jumat (14/8/2026). Pidato tersebut tidak sekadar menyajikan deretan angka. Prabowo menggunakan capaian di sektor pangan, kesehatan, pendidikan, infrastruktur hingga ekonomi rakyat sebagai gambaran arah pemerintahannya. […]

expand_less