Selasa, 28 Jul 2026
light_mode
Beranda » Artikel » Kenapa Ada Hari Buruh Nasional dan Tetap Relevan Hari Ini

Kenapa Ada Hari Buruh Nasional dan Tetap Relevan Hari Ini

  • account_circle D'Borneo
  • calendar_month Jum, 1 Mei 2026
  • visibility 99
  • comment 0 komentar

Setiap 1 Mei, Indonesia memperingati Hari Buruh Nasional. Bagi sebagian orang, tanggal itu identik dengan hari libur, aksi damai serikat pekerja, atau momentum menyuarakan tuntutan kenaikan upah. Namun di balik penetapan itu, tersimpan sejarah panjang tentang perjuangan buruh, dinamika politik ketenagakerjaan, serta pengakuan negara terhadap peran pekerja sebagai fondasi utama pembangunan nasional. Hari Buruh Nasional lahir bukan sebagai hadiah, melainkan sebagai hasil perjuangan kolektif kelas pekerja yang selama puluhan tahun memperjuangkan hak, keadilan, dan pengakuan sosial.

Jejak peringatan Hari Buruh di Indonesia sebenarnya sudah muncul sejak era kolonial. Catatan sejarah menunjukkan peringatan 1 Mei mulai dikenal di Hindia Belanda pada 1918, ketika organisasi buruh mulai tumbuh di tengah praktik kerja yang keras, upah rendah, dan minim perlindungan hukum. Setelah Indonesia merdeka, pemerintah melalui Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1948 bahkan mengatur hak pekerja, termasuk pengakuan terhadap waktu istirahat dan perlindungan kerja. Namun dinamika politik nasional membuat peringatan Hari Buruh sempat kehilangan ruang, terutama ketika isu perburuhan kerap dikaitkan dengan gerakan politik tertentu pada era Orde Baru.

Momentum besar datang pada 2013. Setelah desakan panjang dari serikat pekerja di berbagai daerah, pemerintah akhirnya menetapkan 1 Mei sebagai hari libur nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 24 Tahun 2013. Kebijakan itu menjadi tonggak penting karena untuk pertama kalinya negara secara resmi menempatkan Hari Buruh sebagai bagian dari kalender nasional—setara dengan hari besar lainnya. Penetapan tersebut bukan hanya simbolis, tetapi juga menandai perubahan cara pandang negara terhadap buruh: dari objek produksi menjadi subjek pembangunan.

Secara ekonomi, alasan keberadaan Hari Buruh Nasional sangat relevan. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan jumlah angkatan kerja Indonesia mencapai lebih dari 149 juta orang dalam beberapa tahun terakhir, dengan mayoritas bekerja di sektor formal maupun informal. Artinya, lebih dari separuh populasi produktif Indonesia menjadi penggerak utama konsumsi rumah tangga, produksi industri, distribusi barang, hingga penerimaan negara melalui pajak dan aktivitas ekonomi. Ketika pekerja sejahtera, daya beli naik; ketika daya beli naik, ekonomi bergerak. Sebaliknya, ketika kesejahteraan pekerja tertekan, konsumsi domestik—yang menjadi tulang punggung ekonomi nasional—ikut melemah.

Analisis ekonomi menunjukkan Hari Buruh Nasional juga memiliki fungsi politik dan sosial. Negara membutuhkan ruang dialog antara pemerintah, pengusaha, dan pekerja agar pertumbuhan ekonomi tidak hanya menghasilkan keuntungan korporasi, tetapi juga distribusi kesejahteraan yang lebih adil.

Mengapa Hari Buruh tetap relevan hari ini? Karena tantangan buruh terus berubah. Jika dulu pekerja melawan jam kerja tak manusiawi, kini mereka menghadapi ancaman baru: otomatisasi, kecerdasan buatan, ekonomi gig, outsourcing tanpa perlindungan, serta ketimpangan upah. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan struktur pasar kerja Indonesia masih didominasi sektor informal, yang berarti jutaan pekerja belum menikmati kepastian pendapatan dan perlindungan sosial memadai. Ini menegaskan bahwa semangat May Day belum selesai; ia hanya berganti wajah.

Karena itu, Hari Buruh Nasional bukan sekadar tanggal merah. Ia adalah simbol pengakuan negara bahwa di balik gedung-gedung tinggi, jalan tol, hasil panen, layanan publik, hingga kemajuan teknologi, ada jutaan pekerja yang bekerja setiap hari menjaga Ekonomi Indonesia tetap bergerak. Dan bangsa yang menghormati buruh, sejatinya sedang membangun masa depan ekonomi yang lebih kuat, inklusif, dan berkeadilan. (red)

  • Penulis: D'Borneo

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Apa yang Ditemukan Inspektorat? Hasil Pemeriksaan Marka Biru Sudah Diserahkan ke Gubernur

    Apa yang Ditemukan Inspektorat? Hasil Pemeriksaan Marka Biru Sudah Diserahkan ke Gubernur

    • calendar_month Rab, 3 Jun 2026
    • account_circle D'Borneo
    • visibility 51
    • 0Komentar

    DAYABORNEO, Palangka Raya – Misteri di balik polemik marka jalan berwarna biru yang viral di Kota Palangka Raya mulai menemukan titik terang. Inspektorat Provinsi Kalimantan Tengah memastikan seluruh proses pemeriksaan terhadap proyek yang menuai kritik publik itu telah rampung dan hasilnya sudah berada di tangan Gubernur Kalimantan Tengah, Agustiar Sabran. Meski belum mengungkap isi lengkap […]

  • NTP Naik Tipis: Petani Kalteng Belum Sepenuhnya Menikmati Kenaikan Harga Hasil Panen

    NTP Naik Tipis: Petani Kalteng Belum Sepenuhnya Menikmati Kenaikan Harga Hasil Panen

    • calendar_month Sel, 2 Jun 2026
    • account_circle D'Borneo
    • visibility 50
    • 0Komentar

    DAYABORNEO, Palangka Raya – Di tengah klaim membaiknya daya tukar petani di Kalimantan Tengah, data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) justru mengungkap fakta lain yang patut menjadi perhatian. Meski Nilai Tukar Petani (NTP) naik pada Mei 2026, keuntungan usaha petani belum tentu ikut meningkat. BPS mencatat NTP Kalimantan Tengah naik tipis 0,21 persen, dari 139,43 […]

  • Ketika CCTV Lebih Mahal dari Pengendalian Banjir di APBD DKI 2026

    Ketika CCTV Lebih Mahal dari Pengendalian Banjir di APBD DKI 2026

    • calendar_month Ming, 28 Des 2025
    • account_circle D'Borneo
    • visibility 116
    • 0Komentar

    APBD DKI Jakarta Tahun 2026 kembali menegaskan arah kebijakan yang layak diperdebatkan secara terbuka. Di tengah keterbatasan fiskal akibat turunnya total anggaran menjadi Rp81,32 triliun, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta justru mengalokasikan Rp185,29 miliar untuk layanan managed service CCTV, sementara pengendalian banjir hanya memperoleh Rp18,25 miliar. Secara konsep, penguatan sistem CCTV bukan kebijakan yang keliru. Kota […]

  • Presiden Resmikan 1.061 Koperasi Merah Putih, Desa Didorong Jadi Basis Baru Ekonomi Nasional

    Presiden Resmikan 1.061 Koperasi Merah Putih, Desa Didorong Jadi Basis Baru Ekonomi Nasional

    • calendar_month Sen, 18 Mei 2026
    • account_circle D'Borneo
    • visibility 62
    • 0Komentar

    DAYABORNEO, Jawa Tengah – Pemerintah mulai mempercepat transformasi ekonomi desa melalui pengoperasian 1.061 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) yang diresmikan langsung Presiden Prabowo Subianto di Desa Nglawak, Sabtu (16/5/2026). Peresmian tersebut menandai dimulainya aktivitas koperasi secara serentak di dua provinsi, yakni Jawa Timur dan Jawa Tengah. Dari total jumlah yang dioperasikan, sebanyak 530 koperasi berada […]

  • 647 PNS Disumpah, Sekda Linae Tekankan Pelayanan Publik Berkualitas

    647 PNS Disumpah, Sekda Linae Tekankan Pelayanan Publik Berkualitas

    • calendar_month Rab, 17 Jun 2026
    • account_circle D'Borneo
    • visibility 32
    • 0Komentar

    DAYABORNEO, Palangka Raya – Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah mengambil sumpah dan janji 647 Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Aula Jayang Tingang, Kantor Gubernur Kalteng, Rabu (17/6/2026). Namun di balik prosesi yang berlangsung khidmat itu, terselip pesan tegas kepada aparatur negara: jangan menjadikan status ASN sekadar simbol jabatan, sementara kualitas pelayanan kepada masyarakat tetap jalan di […]

  • Kartini Masa Kini Harus Berani Ambil Peran Strategis

    Kartini Masa Kini Harus Berani Ambil Peran Strategis

    • calendar_month Rab, 22 Apr 2026
    • account_circle D'Borneo
    • visibility 54
    • 0Komentar

    DAYABORNEO, Palangka Raya – Peringatan Hari Kartini tidak boleh berhenti sebagai seremoni tahunan tanpa makna. Wakil Ketua II DPRD Kalimantan Tengah, Muhammad Ansyari, menegaskan bahwa semangat Raden Ajeng Kartini harus dimanifestasikan dalam tindakan nyata perempuan masa kini. Ia menyatakan, perjuangan Kartini di era modern tidak lagi sekadar soal akses pendidikan, tetapi sudah bergeser pada bagaimana […]

expand_less