Kapan Status Darurat Karhutla di Kalimantan Tengah Seharusnya Ditetapkan?
- account_circle fe
- calendar_month Kam, 20 Agu 2026
- visibility 57
- comment 0 komentar

Dok. Karhutla di Kalimantan Tengah. Foto ini digunakan sebagai ilustrasi pemberitaan.
Kebakaran hutan dan lahan atau karhutla bukan persoalan baru bagi Kalimantan Tengah. Setiap musim kemarau, ancaman kebakaran kembali muncul, terutama ketika lahan mengering dan hujan semakin jarang turun. Pola ini berulang hampir setiap tahun, namun tingkat keparahannya selalu berbeda-beda, bergantung pada curah hujan, kondisi lahan gambut, dan kesiapan aparat di lapangan.
Yang menjadi persoalan bukan hanya seberapa luas lahan yang terbakar. Ada pertanyaan yang jauh lebih penting: kapan kondisi karhutla dianggap cukup serius sehingga pemerintah perlu meningkatkan status penanganannya? Pertanyaan tersebut menjadi relevan ketika kejadian kebakaran mulai meningkat, lahan yang terbakar meluas, dan asap mulai mengganggu aktivitas masyarakat. Namun, memahami status darurat karhutla tidak cukup hanya dengan melihat apakah api sedang banyak atau sedikit. Ada mekanisme, indikator, dan kemampuan daerah yang harus menjadi pertimbangan sebelum keputusan itu diambil.
Status Darurat Bukan Sekadar Pergantian Istilah
Banyak masyarakat menganggap status tanggap darurat hanya sebagai label yang diberikan pemerintah ketika kebakaran membesar. Padahal, status keadaan darurat memiliki konsekuensi nyata terhadap pola penanganan bencana, mulai dari struktur komando, kewenangan pengerahan sumber daya, hingga mekanisme anggaran yang dapat digunakan.
Dalam sistem penanggulangan bencana, pemerintah memiliki beberapa tahapan status, antara lain siaga darurat, tanggap darurat, serta transisi darurat ke pemulihan. Perbedaan status tersebut berkaitan dengan kondisi ancaman, dampak bencana, dan kebutuhan penanganan di lapangan. Karena itu, keputusan menaikkan status seharusnya tidak didasarkan semata-mata pada tekanan publik atau banyaknya pemberitaan mengenai kebakaran. Sebaliknya, pemerintah perlu melihat kondisi lapangan secara menyeluruh, mempertimbangkan data dan kajian, bukan sekadar respons atas persepsi yang berkembang di masyarakat.
Mengapa Status Karhutla Menjadi Penting?
Karhutla memiliki karakter yang berbeda dengan kebakaran permukiman. Pada lahan gambut, misalnya, api dapat merambat di bawah permukaan tanah tanpa terlihat jelas dari atas. Api yang tampak sudah padam belum tentu benar-benar mati, karena bara dapat terus membakar lapisan gambut di kedalaman tertentu selama berhari-hari. Petugas harus memastikan kawasan yang terbakar telah dibasahi secara menyeluruh dan suhu tanah benar-benar turun untuk mencegah api kembali muncul di kemudian hari.
Situasi seperti itu membuat penanganan karhutla membutuhkan sumber daya yang tidak sedikit. Ada kebutuhan personel, kendaraan pemadam, pompa, selang, sumber air, peralatan pendukung, hingga pemantauan udara untuk memetakan titik-titik panas secara akurat. Jika wilayah terdampak semakin luas, kemampuan pemerintah daerah juga akan semakin diuji, baik dari sisi jumlah personel maupun ketersediaan peralatan. Di titik inilah kejelasan status bencana menjadi penting, karena berkaitan langsung dengan komando, koordinasi, dan mobilisasi sumber daya lintas instansi.
Apakah Tanpa Status Darurat APBD Tidak Bisa Digunakan?
Ini salah satu hal yang perlu diluruskan agar tidak menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat. Tidak adanya status tanggap darurat bukan berarti pemerintah daerah sama sekali tidak dapat menggunakan anggaran untuk menangani karhutla. Pemerintah tetap dapat menjalankan kegiatan pencegahan dan penanganan yang telah masuk dalam program dan anggaran daerah, sesuai dengan ketentuan yang berlaku sejak awal tahun anggaran.
Persoalannya muncul ketika kebutuhan penanganan berkembang jauh melampaui perencanaan awal yang telah disusun. Dalam kondisi seperti itu, pemerintah membutuhkan mekanisme penganggaran yang dapat merespons kebutuhan mendesak secara cepat. Di sinilah instrumen seperti Belanja Tidak Terduga (BTT) memiliki peran penting dalam pengelolaan keuangan daerah, karena dirancang khusus untuk situasi yang tidak dapat diprediksi sebelumnya. Artinya, status keadaan darurat bukan satu-satunya pintu untuk membiayai penanganan bencana. Namun, status tersebut memberikan kerangka yang lebih jelas ketika pemerintah harus melakukan tindakan luar biasa untuk menghadapi kondisi yang memenuhi kriteria kedaruratan.
Jangan Sampai Menunggu Api Membesar
Ada satu risiko yang sering terlupakan dalam penanganan karhutla, yaitu kecenderungan untuk menunggu sampai kondisi benar-benar memburuk sebelum mengambil tindakan tegas. Padahal, kebakaran kecil yang ditangani sejak awal biasanya jauh lebih mudah dikendalikan dibandingkan kebakaran yang sudah menyebar luas ke berbagai titik. Ketika api masih berada di beberapa lokasi terbatas, kebutuhan personel dan peralatan relatif lebih mudah dikendalikan dan dialokasikan.
Tetapi ketika kebakaran meluas, pemerintah harus bekerja di lebih banyak lokasi secara bersamaan. Kebutuhan air meningkat tajam, waktu operasi bertambah panjang, personel harus dibagi ke berbagai titik, peralatan harus terus dipindahkan, bahkan dukungan lintas daerah atau pemerintah pusat bisa jadi diperlukan untuk membantu menutup kesenjangan sumber daya. Karena itu, penanganan karhutla seharusnya tidak menggunakan prinsip menunggu sampai keadaan benar-benar memburuk, melainkan bertindak secara antisipatif sejak tanda-tanda awal mulai terlihat.
Dampaknya Bukan Hanya pada Hutan
Karhutla sering kali dilihat semata sebagai persoalan lingkungan. Padahal, dampaknya dapat merambat ke berbagai sektor kehidupan masyarakat secara luas. Asap dapat menurunkan kualitas udara dan mengganggu aktivitas sehari-hari, mulai dari pekerjaan, sekolah, hingga kegiatan ekonomi. Dalam kondisi tertentu, jarak pandang juga dapat berkurang drastis sehingga mengganggu transportasi darat maupun udara.
Sekolah dan aktivitas luar ruangan dapat terdampak, memaksa penyesuaian jadwal belajar atau bahkan penghentian sementara kegiatan tatap muka. Pelaku usaha bisa mengalami gangguan aktivitas akibat menurunnya kunjungan atau terhambatnya distribusi barang. Sektor perkebunan dan pertanian ikut menghadapi risiko, baik karena kerusakan lahan langsung maupun terganggunya rantai pasok. Ekosistem yang terbakar juga membutuhkan waktu panjang untuk pulih, bahkan dalam beberapa kasus kerusakan tersebut bersifat permanen. Karena itu, ukuran keseriusan karhutla tidak semestinya hanya menggunakan luas lahan yang terbakar sebagai patokan tunggal. Dampak sosial, kesehatan, ekonomi, lingkungan, dan kemampuan daerah menangani kebakaran juga harus diperhitungkan secara bersamaan.
Kalteng Memiliki Tantangan Geografis
Kalimantan Tengah memiliki wilayah yang sangat luas dengan karakter geografis yang beragam, mulai dari kawasan pesisir hingga pedalaman yang sulit dijangkau. Kondisi tersebut membuat penanganan karhutla tidak selalu sederhana, bahkan untuk kejadian yang tampak kecil sekalipun.
Jarak antarlokasi kebakaran dapat menjadi tantangan tersendiri bagi tim pemadam yang harus bergerak cepat. Akses menuju lokasi tertentu juga tidak selalu mudah, terutama pada wilayah yang minim infrastruktur jalan. Pada wilayah gambut, persoalannya semakin kompleks karena kebakaran dapat bertahan lebih lama dan sulit dipadamkan hanya dengan penyiraman di permukaan tanah. Karena itu, kemampuan respons harus mempertimbangkan karakter wilayah secara spesifik. Pemerintah tidak cukup hanya memiliki personel dalam jumlah besar. Yang dibutuhkan adalah kombinasi data, peralatan, akses, sumber air, personel terlatih, koordinasi, dan sistem komando yang benar-benar efektif di lapangan.
Pemerintah Kabupaten dan Provinsi Harus Satu Komando
Karhutla juga menunjukkan betapa pentingnya hubungan yang solid antara pemerintah kabupaten/kota dan pemerintah provinsi. Kebakaran mungkin pertama kali terjadi di satu wilayah administrasi tertentu. Namun, asap dan dampaknya tidak mengenal batas kabupaten, dan dapat menyebar jauh ke wilayah lain dalam hitungan hari.
Ketika kebakaran semakin luas, penanganannya pun dapat membutuhkan koordinasi lintas wilayah yang rapi dan terstruktur. BPBD, pemadam kebakaran, pemerintah daerah, TNI, Polri, Manggala Agni, perusahaan, masyarakat, dan berbagai unsur lainnya harus dapat bergerak dalam koordinasi yang jelas, tanpa tumpang tindih kewenangan maupun kekosongan tanggung jawab. Karena itu, status dan komando penanganan menjadi penting ketika kemampuan satu daerah mulai menghadapi keterbatasan dan membutuhkan dukungan dari luar wilayahnya.
Kapan Status Darurat Perlu Ditetapkan?
Tidak ada satu angka tunggal yang dapat digunakan untuk semua daerah sebagai jawaban pasti. Penetapan status harus melihat hasil kajian dan indikator kebencanaan yang berlapis, bukan sekadar satu variabel saja. Beberapa hal yang relevan untuk dipertimbangkan antara lain jumlah dan perkembangan kejadian kebakaran, luas lahan yang terbakar, tingkat kekeringan, kondisi lahan gambut, perkembangan asap dan kualitas udara, jumlah masyarakat yang terdampak, potensi gangguan terhadap aktivitas publik, kemampuan personel dan peralatan daerah, kebutuhan dukungan lintas daerah, serta kemampuan pemerintah daerah dalam menangani kondisi yang terus berkembang.
Dengan pendekatan yang mempertimbangkan seluruh indikator tersebut, keputusan menjadi lebih objektif dan dapat dipertanggungjawabkan. Bukan sekadar karena tekanan masyarakat yang meningkat, tetapi juga bukan menunggu sampai dampaknya semakin luas dan sulit dikendalikan.
Data Harus Menjadi Dasar Keputusan
Di tengah meningkatnya perhatian masyarakat terhadap karhutla, keterbukaan data menjadi semakin penting sebagai fondasi kepercayaan publik. Masyarakat perlu mendapatkan informasi mengenai perkembangan kebakaran secara berkala dan mudah diakses.
Berapa kejadian yang tercatat dalam periode tertentu? Berapa luas lahan yang terbakar hingga saat ini? Wilayah mana yang paling terdampak dan membutuhkan perhatian khusus? Bagaimana kualitas udara di kawasan permukiman? Berapa personel dan peralatan yang tersedia untuk menangani situasi tersebut? Apakah sumber daya daerah masih mencukupi untuk periode ke depan? Dan yang tidak kalah penting, apakah pemerintah masih mampu menangani kondisi tersebut dengan status yang sedang berlaku saat ini? Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat membantu masyarakat memahami alasan pemerintah ketika mempertahankan atau meningkatkan status penanganan karhutla, sekaligus mengurangi kesalahpahaman yang sering muncul di ruang publik.
Jangan Menunggu Kabut Asap Menjadi Parah
Pengalaman dari berbagai musim karhutla menunjukkan bahwa pencegahan selalu lebih murah dibandingkan pemulihan, baik dari sisi biaya maupun dampak sosial yang ditimbulkan. Ketika kebakaran sudah meluas, pemerintah bukan hanya menghadapi api semata. Pemerintah juga harus menghadapi asap yang menyebar luas, kerusakan lingkungan yang sulit dipulihkan, gangguan aktivitas masyarakat, dan kebutuhan pemulihan kawasan yang memakan waktu bertahun-tahun.
Karena itu, keputusan dalam penanganan karhutla sebaiknya diambil berdasarkan prinsip cepat, terukur, dan proporsional. Jika kondisi masih dapat ditangani dengan status siaga, maka penguatan pencegahan dan respons harus dilakukan secara maksimal sejak dini. Namun, apabila indikator menunjukkan kemampuan daerah mulai kewalahan dan ancaman semakin luas, peningkatan status perlu dipertimbangkan secara serius tanpa penundaan yang tidak perlu.
Status Darurat Bukan Tujuan Akhir
Pada akhirnya, perdebatan mengenai status tanggap darurat seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan apakah pemerintah sudah menetapkannya atau belum. Status hanyalah instrumen, bukan tujuan itu sendiri. Yang jauh lebih penting adalah apakah masyarakat terlindungi, api dapat dikendalikan, kualitas udara terjaga, dan sumber daya tersedia ketika benar-benar dibutuhkan di lapangan.
Karhutla Kalteng tidak bisa diselesaikan hanya dengan memadamkan api setelah kebakaran terjadi. Pencegahan, patroli, pembasahan lahan, pengawasan kawasan rawan, edukasi masyarakat, dan penegakan hukum tetap menjadi bagian penting yang harus berjalan sepanjang tahun, bukan hanya saat musim kemarau tiba. Sementara itu, ketika situasi berkembang menjadi bencana yang membutuhkan respons lebih besar, pemerintah harus memiliki keberanian untuk mengambil keputusan berdasarkan data, bukan berdasarkan tekanan sesaat.
Sebab, terlambat menetapkan langkah bukan berarti masalah menjadi lebih kecil. Justru dalam penanganan karhutla, waktu sering menjadi faktor penentu keberhasilan. Api yang hari ini masih dapat dikendalikan bisa berubah menjadi persoalan jauh lebih besar ketika dibiarkan berkembang tanpa penanganan yang memadai.
Dan bagi Kalimantan Tengah, pertanyaan terpenting bukan sekadar “kapan status tanggap darurat ditetapkan?” Melainkan, “apakah seluruh sumber daya pemerintah sudah cukup kuat untuk memastikan karhutla tidak berkembang menjadi bencana yang lebih besar?” Jika jawabannya mulai meragukan, maka peningkatan respons tidak seharusnya menunggu sampai asap menutup langit.
- Penulis: fe

Saat ini belum ada komentar