Tegas! Junaidi Sebut Antrean Panjang di SPBU Bukan Dampak Peralihan Pembelian Pertalite
- account_circle fe
- calendar_month Rab, 16 Sep 2026
- visibility 35
- comment 0 komentar

Dok. Wakil Ketua III DPRD Kalteng, Junaidi
PALANGKA RAYA, Dayaborneo – Antrean kendaraan yang mengular di sejumlah SPBU Palangka Raya bukan tanpa sebab. Wakil Ketua III DPRD Provinsi Kalteng Junaidi menuding akar masalahnya sederhana: pasokan BBM dari Pertamina belum memenuhi kebutuhan harian kota ini.
Junaidi membeberkan angka pasti kebutuhan BBM Palangka Raya, yakni 205 kiloliter (KL) per hari. Menurutnya, jika kuota sebesar itu benar-benar dipenuhi, antrean panjang yang bikin warga geram seharusnya tak perlu terulang.
“Kalau memang kebutuhan kita per hari 205 KL, wajib itu dipenuhi. Kalau masih terjadi antrean, selesai. Harapan kita, Pertamina harus kembali menyalurkan sesuai kuota kita,” tegas Junaidi, Rabu (16/9/2026).
Ironisnya, di tengah antrean yang mengular, muncul fenomena lain yang tak kalah bikin geleng kepala: pelangsir dadakan di pinggir jalan menjual BBM dengan harga selangit, tembus Rp18.000 per liter. Junaidi tak menampik ini sebagai konsekuensi logis dari kelangkaan barang.
“Memang hukum ekonomi, kalau barang langka, harga naik. Makanya, apabila terjadi lagi antrean mengular di seluruh SPBU, itu tandanya kuota untuk Kota Palangka Raya kurang salur dari Pertamina,” ujarnya.
Ditanya soal opsi pemerintah membatasi harga jual pelangsir, Junaidi mengakui hal itu memang bisa dilakukan lewat penetapan Harga Eceran Tertinggi (HET). Namun ia mengingatkan, aturan di atas kertas tak selalu ampuh melawan hukum pasar di lapangan.
“Pemerintah memang harus bisa melakukan intervensi mengatur batas maksimal atau harga di tingkat eceran tertinggi. Memang bisa, cuma walaupun seperti itu, kadang-kadang di masyarakat tetap saja hukum pasar yang berlaku. Kalau barang langka, harga mahal,” katanya.
Junaidi pun melempar solusi konkret: jika antrean kembali terjadi tiga hari berturut-turut, penyaluran mesti digenjot melebihi kuota normal. Ia mencontohkan, penyaluran 300 KL selama tiga hari berpotensi menuntaskan antrean yang menumpuk.
Yang menarik, Junaidi buru-buru menepis tudingan bahwa antrean dipicu peralihan massal dari Pertalite ke BBM subsidi jenis lain. Baginya, akar masalah bukan soal jenis BBM yang diburu warga, melainkan murni soal cukup atau tidaknya pasokan yang digelontorkan.
“Pertalite ke apa, ke subsidi? Kalau memang barangnya cukup, tidak terjadi antrean. Tidak benar antrean mengular akibat masyarakat beralih dari Pertamax membeli Pertalite.” pungkas Junaidi, menutup analisisnya soal biang kerok antrean BBM di Palangka Raya. (fe)
- Penulis: fe

Saat ini belum ada komentar