Kartini di Era Layar: Ibu, Garda Terdepan Menjaga Karakter Anak
- account_circle D'Borneo
- calendar_month Sel, 21 Apr 2026
- visibility 48
- comment 0 komentar

Dok. Ilustrasi.
Peringatan Hari Kartini setiap 21 April kembali menggugah satu pertanyaan mendasar: siapa yang paling menentukan arah karakter generasi muda di tengah derasnya arus digital? Jawabannya tetap sama sejak dulu—ibu. Bedanya, tantangan hari ini jauh lebih kompleks dan agresif.
Di era global yang serba terhubung, anak-anak tidak lagi hanya belajar dari sekolah dan lingkungan sekitar. Gawai di tangan mereka membuka akses tanpa batas ke informasi, budaya, hingga nilai-nilai yang belum tentu sejalan dengan norma lokal.
Data nasional menunjukkan penetrasi internet pada anak dan remaja terus meningkat signifikan dalam beberapa tahun terakhir, dengan durasi penggunaan yang kian panjang setiap harinya. Ini berarti, sebagian besar proses pembentukan karakter kini terjadi di ruang digital.
Kondisi ini menghadirkan realitas baru: rumah bukan lagi satu-satunya pusat pendidikan. Tanpa pengawasan, algoritma media sosial bisa menjadi “guru liar” yang membentuk pola pikir anak secara instan. Di sinilah peran ibu mengalami transformasi besar—dari pengasuh menjadi navigator digital.
Momentum Kartini mengingatkan bahwa kekuatan perempuan bukan hanya pada kesetaraan, tetapi pada pengaruh strategis dalam membangun peradaban. Ibu yang melek digital terbukti mampu membatasi konten negatif, mengarahkan anak pada aktivitas produktif, serta menanamkan etika bermedia sejak dini. Sebaliknya, minimnya literasi digital orang tua berpotensi menciptakan celah pengawasan yang berbahaya.
Analisis menunjukkan bahwa anak dengan pendampingan aktif dari orang tua memiliki kecenderungan lebih rendah terpapar risiko digital seperti kecanduan gawai, perundungan siber, hingga paparan konten tidak layak. Ini bukan sekadar isu teknologi, melainkan persoalan karakter.
Namun, tantangan terbesar justru datang dari ketimpangan adaptasi. Anak bergerak cepat mengikuti perkembangan teknologi, sementara banyak orang tua tertinggal. Akibatnya, kontrol melemah dan nilai-nilai yang seharusnya ditanamkan di rumah perlahan tergeser oleh pengaruh luar.
Karena itu, Hari Kartini tidak cukup dirayakan dengan seremoni. Ini adalah momentum evaluasi: sudah sejauh mana peran ibu diperkuat dalam menghadapi perubahan zaman? Negara dapat menghadirkan regulasi, tetapi benteng utama tetap berada di keluarga.
Kartini masa kini bukan hanya simbol perjuangan, tetapi representasi ketangguhan ibu dalam menjaga arah generasi. Di tengah gempuran dunia digital, ibu tetap menjadi kompas—penentu apakah anak-anak Indonesia tumbuh dengan karakter kuat atau kehilangan arah di tengah arus global. (red).
- Penulis: D'Borneo

Saat ini belum ada komentar