Kalteng Dilanda Tekanan Harga, Inflasi April Tercatat 3,66 Persen
- account_circle D'Borneo
- calendar_month Sen, 4 Mei 2026
- visibility 80
- comment 0 komentar

Dok. Suasana saat konferensi pers BPS Provinsi Kalteng.
DAYABORNEO, Palangka Raya — Tekanan harga di Kalimantan Tengah kian terasa. Badan Pusat Statistik (BPS) merilis inflasi tahunan (year-on-year/y-on-y) April 2026 mencapai 3,66 persen, angka yang menegaskan tren kenaikan harga belum mereda.
Kabupaten Kapuas bahkan mencatat lonjakan tertinggi hingga 3,97 persen, menjadi wilayah dengan tekanan inflasi paling kuat.
Kenaikan ini mendorong Indeks Harga Konsumen (IHK) Kalteng naik ke level 111,97, dari sebelumnya 108,02 pada April 2025. Artinya, dalam setahun terakhir, harga-harga bergerak naik hampir di seluruh sektor pengeluaran.
“Semua kelompok mengalami kenaikan, meskipun besarannya berbeda,” ungkap Statistisi Ahli Madya BPS Kalteng, Taufiqurrahman, saat konferensi pers di Palangka Raya, Senin (4/5/2026).
Lonjakan paling tajam terjadi pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yang melejit 11,49 persen. Namun sorotan utama tetap tertuju pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang naik 5,39 persen—sektor yang langsung menyentuh kebutuhan harian masyarakat.
Di tengah tekanan tersebut, Kabupaten Sukamara mencatat inflasi terendah sebesar 2,81 persen. Meski lebih rendah, tren kenaikan harga tetap terjadi dan memperlihatkan pola yang merata di seluruh wilayah pemantauan.
Secara bulanan, inflasi April tercatat 0,41 persen, sementara inflasi tahun berjalan (year-to-date) sudah mencapai 1,81 persen. Angka ini menjadi indikasi bahwa tekanan harga terus terakumulasi sejak awal tahun.
BPS menilai kondisi ini masih dalam batas terkendali. Namun realitas di lapangan menunjukkan tantangan berbeda—kenaikan harga berpotensi menggerus daya beli, terutama bagi masyarakat berpenghasilan rendah.
“Stabilitas harga harus dijaga, khususnya pada komoditas pangan,” tegas Taufiqurrahman.
Jika tidak direspons dengan kebijakan yang tepat, inflasi berisiko menjadi beban berlapis bagi masyarakat. Di tengah ketidakpastian ekonomi global, kenaikan harga yang terus merangkak bisa berubah menjadi tekanan serius bagi perekonomian daerah. (red-fe)
- Penulis: D'Borneo

Saat ini belum ada komentar