Dentuman Misterius Menggema hingga Bandung, Ternyata Ini Asal Suaranya!
- account_circle fe
- calendar_month Sen, 7 Sep 2026
- visibility 29
- comment 0 komentar

Dok. Ist
JAKARTA, Dayaborneo – Suara dentuman disertai gemuruh yang terdengar di sejumlah wilayah Jawa dan Lampung dalam beberapa hari terakhir sempat membuat warga bertanya-tanya. Fenomena tersebut bahkan dilaporkan terasa hingga sejumlah kawasan di Jawa Barat.
Penjelasan mengenai suara misterius itu kini mengarah pada aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda yang masih mengalami erupsi secara terus-menerus.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menduga suara yang terdengar cukup jauh dari lokasi gunung berkaitan dengan energi akustik yang dilepaskan ketika terjadi letusan.
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, Ph.D., menjelaskan bahwa suara dari aktivitas erupsi dapat merambat dalam jarak yang sangat jauh apabila kondisi atmosfer mendukung.
“Energi akustik yang besar dapat merambat hingga ratusan kilometer akibat kondisi atmosfer,” ujar Berton dalam keterangan resminya.
Menurutnya, kondisi suhu, angin, serta lapisan atmosfer tertentu dapat menyebabkan gelombang suara mengalami pembiasan sehingga terdengar di wilayah yang letaknya cukup jauh dari sumber suara.
Fenomena tersebut juga tidak berkaitan dengan aktivitas gempa tektonik signifikan di Jawa Barat. Karena itu, masyarakat diminta tidak langsung mengaitkan suara dentuman dengan kemungkinan gempa besar.
Di Kabupaten Serang, suara gemuruh dilaporkan terdengar di sejumlah wilayah, antara lain Carita, Labuan, Panimbang, dan Jiput. Aktivitas Gunung Anak Krakatau juga menyebabkan abu vulkanik teramati di beberapa kecamatan, termasuk kawasan Anyer dan Cinangka.
Meski aktivitas vulkanik masih berlangsung, sejauh ini belum dilaporkan adanya korban jiwa maupun kerusakan bangunan akibat fenomena tersebut.
Badan Geologi juga menilai kondisi tubuh gunung yang terbentuk setelah erupsi 2018 masih relatif kecil. Dengan kondisi itu, potensi terjadinya runtuhan besar yang kemudian memicu tsunami dinilai masih rendah.
Masyarakat tetap diminta tidak panik, tetapi juga tidak mengabaikan rekomendasi keselamatan. Warga dan wisatawan di sekitar Selat Sunda diimbau menjauhi kawasan dalam radius tiga kilometer dari kawah aktif Gunung Anak Krakatau.
Informasi mengenai aktivitas gunung api sebaiknya diperoleh dari kanal resmi pemerintah dan lembaga terkait. Masyarakat juga diminta tidak menyebarkan rekaman, kabar, maupun dugaan yang belum terverifikasi karena dapat memicu kepanikan. (fe)
- Penulis: fe

Saat ini belum ada komentar