Seremoni Kartini atau Investasi Masa Depan? Pemprov Kalteng Dorong PAUD Tak Sekadar Ajang Lomba
- account_circle D'Borneo
- calendar_month Sel, 28 Apr 2026
- visibility 130
- comment 0 komentar

Bunda PAUD Kalteng Aisyah Thisia Agustiar saat menyampaikan sambutannya.
DAYABORNEO, Palangka Raya — Peringatan Hari Kartini ke-147 di Kalimantan Tengah diwarnai lomba fashion show dan mewarnai anak usia dini. Namun di balik panggung penuh warna itu, Pemerintah Provinsi Kalteng mengirim pesan tegas: pendidikan anak usia dini tidak boleh berhenti pada seremoni tahunan.
Kegiatan yang digelar di Aula Dinas Pendidikan, Senin (27/4/2026), menghadirkan Bunda PAUD Kalteng Aisyah Thisia Agustiar.
Dalam kesempatan itu, Aisyah menegaskan bahwa semangat Kartini harus ditanamkan sejak dini, bukan hanya diperingati. “Kalau hanya lomba tanpa nilai, kita kehilangan esensi. Anak-anak harus dibentuk percaya diri, kreatif, dan berkarakter,” ujarnya.
Lomba fashion show memang memberi ruang bagi anak tampil dan mengenal budaya lokal. Lomba mewarnai membuka ruang ekspresi. Tetapi pertanyaan yang mengemuka: apakah kegiatan seperti ini cukup untuk menjawab tantangan pendidikan dasar di daerah yang masih menghadapi ketimpangan akses?
Mewakili Gubernur Agustiar Sabran, Penjabat Sekda Linae Victoria Aden menegaskan bahwa PAUD adalah fondasi utama pembangunan manusia. Ia mengingatkan, kegiatan ini bukan sekadar lomba, melainkan bagian dari proses pembentukan karakter sejak dini.
“Anak-anak bukan hanya tampil, mereka sedang belajar berani dan percaya diri. Ini investasi jangka panjang,” tegasnya.
Pemprov Kalteng mengklaim terus mendorong penguatan PAUD melalui pemerataan akses hingga wilayah pedalaman, peningkatan kualitas tenaga pendidik, serta integrasi layanan dengan sektor kesehatan dan gizi. Namun realitas di lapangan masih menyisakan tantangan—terutama kesenjangan fasilitas dan kualitas layanan antarwilayah.
Momentum Kartini seharusnya menjadi titik evaluasi, bukan sekadar perayaan. Jika tidak diikuti langkah konkret, kegiatan serupa berisiko menjadi rutinitas tahunan yang meriah di permukaan, tetapi minim dampak bagi peningkatan kualitas generasi sejak usia dini. (red-fe)
- Penulis: D'Borneo

Saat ini belum ada komentar