Sabtu, 31 Okt 2026
light_mode
Beranda » Opini Redaksi » Jalur Prioritas Lansia dan Ojol di Tengah Krisis BBM Palangka Raya — Solusi Manis yang Berisiko Pahit

Jalur Prioritas Lansia dan Ojol di Tengah Krisis BBM Palangka Raya — Solusi Manis yang Berisiko Pahit

  • account_circle Tim Redaksi
  • calendar_month Sen, 7 Sep 2026
  • visibility 48
  • comment 0 komentar

Kelangkaan bahan bakar minyak yang melanda Palangka Raya beberapa waktu terakhir bukan lagi sekadar keluhan warganet di media sosial, melainkan persoalan nyata yang menyentuh denyut ekonomi harian masyarakat. Antrean yang mengular hingga ke badan jalan, sebagaimana terlihat di sejumlah SPBU seperti Jalan Imam Bonjol dan Jalan Tjilik Riwut, telah memaksa Pemerintah Kota Palangka Raya turun tangan dengan berbagai kebijakan darurat, salah satunya adalah pembuatan jalur khusus prioritas bagi lansia dan pengemudi ojek online. Niat ini patut diapresiasi sebagai bentuk kepekaan sosial pemerintah terhadap kelompok rentan, namun sebagai kebijakan publik, ia tidak boleh luput dari kajian kritis, terutama menyangkut potensi dampak ikutan yang justru bisa memperburuk situasi yang hendak diperbaiki.

Untuk memahami akar persoalan, penting bagi kita menengok konteks di baliknya. Berdasarkan hasil rapat koordinasi antara Pemko Palangka Raya dan pihak SPBU di Kantor DPKUKMP pada pertengahan Agustus lalu, setidaknya ada tiga faktor yang disebut menjadi biang kerok antrean: pasokan BBM yang tidak sesuai dengan pengajuan, gangguan sistem barcode saat listrik padam, dan pergeseran preferensi masyarakat dari Pertalite ke Pertamax yang dinilai lebih efisien untuk mesin kendaraan. Kasatpol PP Kota Palangka Raya, Berlianto, bahkan memberi contoh konkret bagaimana kesenjangan pasokan ini terjadi di lapangan: ada SPBU yang mengajukan kebutuhan sebanyak 24 kiloliter, namun hanya menerima 16 kiloliter, sementara sisanya tertunda karena keterbatasan stok di depo. Artinya, akar masalah yang sesungguhnya bukan terletak pada tata kelola antrean di permukaan, melainkan pada rantai pasok yang tersendat jauh sebelum BBM sampai ke nosel pompa.

Di tengah situasi itulah, Wali Kota Palangka Raya Fairid Naparin menerbitkan Surat Edaran Nomor 500.2.1/198/DPKUKMP-bid.1/V/2026 yang membatasi pembelian BBM bersubsidi, dengan batas maksimal Rp50.000 untuk kendaraan roda dua jenis Pertalite dan Rp100.000 untuk Pertamax. Kebijakan pembatasan ini, meski bertujuan meratakan distribusi, justru menimbulkan efek berantai yang tidak sepenuhnya diantisipasi: karena jatah pengisian yang lebih kecil, pengemudi ojol yang sepenuhnya menggantungkan penghasilan dari jalanan kini harus lebih sering bolak-balik ke SPBU, sehingga waktu antre pun bertambah frekuensinya.

Ambil contoh kasus seorang pengemudi ojol di Palangka Raya yang setiap paginya harus rela mengorbankan dua hingga tiga jam waktu produktifnya hanya untuk mengantre BBM. Baginya, waktu bukan sekadar hitungan jam, melainkan rupiah yang terus melayang setiap detiknya—sebab selama ia berdiri dalam antrean, tidak ada satu pun order penumpang atau pesanan makanan yang bisa ia ambil. Ironisnya, ia harus menyaksikan sendiri bagaimana kendaraan roda empat, yang notabene memiliki kapasitas tangki jauh lebih besar dan tidak bergantung pada BBM untuk kelangsungan nafkah harian, justru mendapat perlakuan yang relatif lebih lancar dalam antrean dibanding pengendara roda dua seperti dirinya. Ketimpangan inilah yang kemudian memunculkan rasa ketidakadilan di kalangan pengemudi ojol: mereka yang justru paling membutuhkan kecepatan pengisian BBM demi menyambung hidup, malah kerap tertahan lebih lama dibanding kendaraan pribadi yang penggunaannya tidak seurgen kebutuhan operasional harian seorang ojol.

Dari sinilah letak dilema kebijakan jalur prioritas ini mulai terlihat. Di satu sisi, memberi jalur khusus bagi ojol memang terasa adil secara moral, mengingat mereka adalah pekerja yang kehilangan penghasilan setiap detik mereka mengantre, bukan sekadar konsumen yang mengisi BBM untuk keperluan pribadi. Lansia pun jelas memerlukan perlakuan khusus karena keterbatasan fisik untuk berdiri atau duduk berjam-jam dalam antrean yang bisa memakan waktu lebih dari satu jam. Namun di sisi lain, setiap kendaraan yang disisipkan ke jalur prioritas pada dasarnya memotong hak antre kendaraan lain yang sudah menunggu lebih dulu. Tanpa kuota yang jelas dan mekanisme verifikasi yang ketat, jalur ini rawan disalahgunakan oleh oknum yang mengaku-ngaku sebagai ojol aktif atau mendompleng status lansia demi mempersingkat waktu tunggu, sebuah celah yang dalam praktiknya sulit diawasi oleh petugas gabungan yang jumlahnya terbatas di setiap SPBU.

Risiko lain yang tidak kalah serius adalah efek domino terhadap antrean reguler itu sendiri. Secara matematis, penyisipan kendaraan prioritas secara terus-menerus ke dalam antrean utama akan memperpanjang waktu tunggu bagi pengendara umum yang tidak masuk kategori prioritas. Jika tidak diatur dengan sistem kuota per jam atau slot waktu tertentu, yang terjadi bukan pengurangan kemacetan, melainkan pemindahan beban antrean dari satu kelompok ke kelompok lain. Pada gilirannya, hal ini berpotensi memicu gesekan sosial di lapangan, sesuatu yang sebenarnya sudah diwanti-wanti oleh anggota Komisi II DPRD Kota Palangka Raya, Nookhalis Ridha, yang mengimbau masyarakat tetap menjaga situasi tetap kondusif agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan di tengah keresahan warga akibat antrean panjang ini.

Kabar baiknya, situasi di lapangan belakangan menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Pemko Palangka Raya melaporkan bahwa setelah melakukan koordinasi intensif dengan Pertamina serta meminta penambahan pasokan, antrean di berbagai SPBU mulai terurai. Plt Kepala DPKUKMP, Samsul Rizal, bahkan menegaskan bahwa hasil pemantauan di 11 titik SPBU se-Kota Palangka Raya menunjukkan stok BBM dalam kondisi aman, dengan hanya sedikit antrean yang sesekali meluber ke badan jalan tanpa mengganggu arus lalu lintas secara signifikan. Masyarakat pun diimbau untuk tidak lagi ikut panik membeli BBM secara berlebihan, mengingat empat SPBU di kota ini—yakni di Jalan Tjilik Riwut Km 12, Jalan Seth Adji, Jalan Diponegoro, dan Pahandut Seberang—telah beroperasi selama 24 jam penuh untuk menampung kebutuhan masyarakat kapan saja.

Meski demikian, membaiknya kondisi di lapangan tidak lantas menghapus catatan kritis terhadap kebijakan jalur prioritas ini sebagai solusi jangka panjang. Redaksi berpandangan bahwa jalur khusus lansia dan ojol semestinya diposisikan sebagai langkah darurat sementara, bukan solusi permanen yang dibiarkan berjalan tanpa evaluasi berkala. Pemko perlu segera menyusun standar operasional prosedur yang jelas, misalnya dengan menetapkan kuota maksimal kendaraan prioritas per jam, kartu identitas khusus bagi ojol yang terverifikasi melalui aplikasi mitra seperti Gojek dan Grab, serta pengawasan berlapis agar jalur ini tidak menjadi celah kecurangan. Lebih jauh, akar masalah distribusi pasokan dari depo ke SPBU harus menjadi prioritas utama pembenahan, karena tanpa pasokan yang stabil dan sesuai kebutuhan riil, kebijakan seelegan apa pun di permukaan hanya akan menjadi tambal sulam yang meredakan gejala tanpa pernah benar-benar menyembuhkan penyakitnya.

Pada akhirnya, empati terhadap kelompok rentan dalam kebijakan publik memang layak diapresiasi, tetapi empati tanpa perencanaan matang dan mekanisme pengawasan yang kuat berisiko melahirkan ketidakadilan baru di tengah krisis yang sudah ada. Palangka Raya membutuhkan lebih dari sekadar jalur prioritas di SPBU; kota ini membutuhkan kepastian pasokan, transparansi distribusi, dan komunikasi yang jujur kepada warganya tentang kapan situasi benar-benar akan kembali normal.

Opini Redaksi – DAYABORNEO

  • Penulis: Tim Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Gebyar Ramadan Harus Cetak Generasi Berkarakter, Bukan Sekadar Ajang Lomba

    Gebyar Ramadan Harus Cetak Generasi Berkarakter, Bukan Sekadar Ajang Lomba

    • calendar_month Sel, 3 Mar 2026
    • account_circle D'Borneo
    • visibility 65
    • 0Komentar

    DAYABORNEO, Palangka Raya – Gubernur Kalimantan Tengah Agustiar Sabran menegaskan komitmennya membangun generasi muda berkarakter saat membuka Gebyar Ramadan Berkah Jilid 5 di Halaman TVRI Kalteng, Jalan Yos Sudarso, Senin (2/3/2026) sore. Didampingi Wakil Gubernur Edy Pratowo, ia menolak jika kegiatan tersebut dipandang sebatas perlombaan tahunan tanpa makna strategis. Di hadapan peserta dan tamu undangan, […]

  • Pemprov Kalteng Ajukan Perubahan APBD 2026, Ini yang Menjadi Perhatian

    Pemprov Kalteng Ajukan Perubahan APBD 2026, Ini yang Menjadi Perhatian 

    • calendar_month Rab, 9 Sep 2026
    • account_circle fe
    • visibility 53
    • 0Komentar

    PALANGKA RAYA, Dayaborneo – Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah tak mau kecolongan menghadapi gejolak ekonomi yang bisa mengganggu keuangan daerah. Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Tahun Anggaran 2026 pun resmi diajukan ke DPRD. Raperda tersebut diserahkan langsung oleh Wakil Gubernur Kalimantan Tengah Edy Pratowo kepada Ketua DPRD Kalteng Arton […]

  • Kalteng Expo 2026 Dibuka, Gubernur Agustiar Dorong UMKM Rebut Pasar Global

    Kalteng Expo 2026 Dibuka, Gubernur Agustiar Dorong UMKM Rebut Pasar Global

    • calendar_month Sen, 18 Mei 2026
    • account_circle D'Borneo
    • visibility 79
    • 0Komentar

    DAYABORNEO, Palangka Raya – Kalteng Expo 2026 resmi dibuka dan langsung diposisikan bukan sekadar pameran tahunan. Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah menjadikannya sebagai etalase besar ekonomi daerah untuk mendorong UMKM keluar dari pasar lokal dan masuk ke arena bisnis yang lebih luas. Pembukaan dilakukan Gubernur Kalimantan Tengah Agustiar Sabran melalui prosesi pemotongan pita di GOR Indoor […]

  • Prabowo Tegaskan Kekayaan Alam Tak Boleh Bocor

    Prabowo Tegaskan Kekayaan Alam Tak Boleh Bocor

    • calendar_month Kam, 21 Mei 2026
    • account_circle D'Borneo
    • visibility 98
    • 0Komentar

    DAYABORNEO, Jakarta — Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa kekayaan alam Indonesia harus menjadi kekuatan nasional yang sepenuhnya dipergunakan untuk kemakmuran rakyat. Penegasan itu disampaikan Presiden saat menyampaikan pidato dalam Rapat Paripurna DPR RI ke-19 Masa Persidangan V Tahun Sidang 2025–2026 terkait Kerangka Ekonomi Makro (KEM) dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (PPKF) RAPBN 2027 di Gedung Nusantara […]

  • Edy Pratowo Tegaskan DPR RI Dapil Kalteng Harus Perjuangkan Program Daerah di Senayan

    Edy Pratowo Tegaskan DPR RI Dapil Kalteng Harus Perjuangkan Program Daerah di Senayan

    • calendar_month Jum, 16 Jan 2026
    • account_circle D'Borneo
    • visibility 113
    • 0Komentar

    DAYABORNEO, Palangka Raya – Wakil Gubernur Kalimantan Tengah (Kalteng) Edy Pratowo menegaskan pentingnya peran Anggota DPR RI dari Daerah Pemilihan (Dapil) Kalimantan Tengah dalam memperjuangkan kepentingan daerah di tingkat nasional. Penegasan tersebut disampaikannya usai mengikuti Rapat Paripurna ke-2 Masa Persidangan II Tahun Sidang 2026 DPRD Provinsi Kalteng, Rabu (14/1/2026). Edy menyampaikan ucapan selamat atas pelantikan […]

  • Puluhan Tenant Kehilangan Akses Pluit Junction, PT Jakpro Digugat ke Pengadilan

    Puluhan Tenant Kehilangan Akses Pluit Junction, PT Jakpro Digugat ke Pengadilan

    • calendar_month Jum, 27 Feb 2026
    • account_circle D'Borneo
    • visibility 64
    • 0Komentar

    DAYABORNEO, Jakarta – Puluhan penyewa ruang usaha di Mall Pluit Junction menghadapi pemutusan akses secara sepihak setelah pengelolaan kawasan dialihkan dari PT Jakarta Propertindo (Jakpro) kepada PT Grha Jaya Pradana (GJP). Para tenant menegaskan kontrak sewa mereka masih berlaku hingga 2026, namun akses ke unit ditutup total sejak Oktober 2025. Akibatnya, aktivitas usaha terhenti dan […]

expand_less