Pengecer Naik Kelas: Saat Dagang BBM Berpindah ke Media Sosial
- account_circle D'Borneo
- calendar_month Jum, 8 Mei 2026
- visibility 29
- comment 0 komentar

Dok. Ilustrasi.
Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) di Kalimantan Tengah memunculkan fenomena baru yang menarik sekaligus memantik ironi. Ketika ruang jual-beli di pinggir jalan perlahan menghilang akibat tekanan kebijakan dan pengawasan, transaksi justru bermigrasi diam-diam ke ruang digital. Pengecer tak lagi menunggu pembeli di depan toko. Kini, mereka “naik kelas” — berdagang lewat pesan instan, media sosial, dan jaringan komunikasi tertutup.
Awalnya, polemik bermula dari antrean panjang BBM di sejumlah SPBU yang memicu kepanikan publik. Pemerintah Kota Palangka Raya sempat menerbitkan surat edaran pembatasan pembelian BBM, meski kemudian dikoreksi dan dinyatakan tidak berlaku.
Apalagi sebelumnya, pernyataan Gubernur Kalimantan Tengah yang menjanjikan hadiah bagi pelapor dugaan penimbunan BBM memperkuat efek psikologis di lapangan. Para pengecer mendadak tiarap.
Jeriken yang biasanya berjajar di depan warung mendadak lenyap. Lapak eceran tampak kosong. Namun, apakah perdagangan berhenti? Ternyata tidak. Ia hanya berubah wajah.
Kini, transaksi berlangsung lebih senyap dan eksklusif. Penjual menawarkan BBM melalui platform media sosial FB, Messenger, hingga ke percakapan Whatsapp. Polanya mirip perdagangan daring: ada katalog stok, negosiasi harga, lokasi pengambilan, bahkan layanan antar. Harga pun melonjak liar — mulai Rp18 ribu hingga mendekati Rp30 ribu per liter, jauh di atas harga resmi.
Fenomena ini menunjukkan satu hal: ketika pasar formal terganggu, pasar informal akan selalu mencari celah. Bedanya, kali ini ia bertransformasi menjadi “pasar digital bawah tanah”.
Di satu sisi, kondisi ini mencerminkan tingginya kebutuhan masyarakat terhadap BBM. Di sisi lain, ia menjadi alarm bagi pemerintah bahwa pengawasan konvensional tak lagi cukup. Penjualan tak lagi berlangsung di etalase toko, melainkan di ruang obrolan privat yang sulit terdeteksi.
Pengecer memang tak lagi berjualan di pinggir jalan. Mereka kini bermain di layar ponsel. Dalam diam, mereka menemukan pasar baru — lebih rapi, lebih tertutup, namun jauh lebih mahal bagi rakyat kecil.
Di era digital, bahkan kelangkaan pun ikut bertransformasi. (red)
- Penulis: D'Borneo

Saat ini belum ada komentar