Senin, 14 Sep 2026
light_mode
Beranda » Opini Redaksi » Ketika CCTV Lebih Mahal dari Pengendalian Banjir di APBD DKI 2026

Ketika CCTV Lebih Mahal dari Pengendalian Banjir di APBD DKI 2026

  • account_circle D'Borneo
  • calendar_month Ming, 28 Des 2025
  • visibility 139
  • comment 0 komentar

APBD DKI Jakarta Tahun 2026 kembali menegaskan arah kebijakan yang layak diperdebatkan secara terbuka. Di tengah keterbatasan fiskal akibat turunnya total anggaran menjadi Rp81,32 triliun, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta justru mengalokasikan Rp185,29 miliar untuk layanan managed service CCTV, sementara pengendalian banjir hanya memperoleh Rp18,25 miliar.

Secara konsep, penguatan sistem CCTV bukan kebijakan yang keliru. Kota megapolitan seperti Jakarta membutuhkan teknologi pemantauan yang andal untuk menjaga keamanan, ketertiban, lalu lintas, hingga pengelolaan keramaian publik.

Kamera yang terhubung secara real time dengan pusat kendali jelas membantu aparat bergerak cepat dan presisi. Dalam konteks kota cerdas (smart city), investasi ini relevan dan bahkan mendesak.

Namun, ketika anggaran CCTV hampir sepuluh kali lipat lebih besar dibandingkan pengendalian banjir, publik wajar bertanya: apakah skala prioritas sudah seimbang? Banjir bukan sekadar persoalan genangan air, melainkan ancaman langsung terhadap keselamatan, kesehatan, dan produktivitas jutaan warga.

Dalam konteks tersebut, porsi anggaran Rp18,25 miliar untuk sistem pengendalian banjir berbasis teknologi terlihat jauh dari memadai jika dibandingkan dengan kompleksitas persoalan yang dihadapi ibu kota.

Lebih jauh, teknologi pengendalian banjir tanpa dukungan anggaran yang kuat berisiko menjadi solusi parsial. Sistem pemantauan dan pengolahan data memang penting, tetapi tanpa intervensi fisik, penguatan infrastruktur drainase, dan penataan ruang yang konsisten, teknologi hanya akan berfungsi sebagai alat pencatat masalah, bukan penyelesai masalah.

Kondisi fiskal DKI Jakarta yang tertekan akibat penurunan signifikan Dana Bagi Hasil dari pemerintah pusat seharusnya mendorong kebijakan anggaran yang semakin selektif dan berbasis kebutuhan paling mendesak. Dalam situasi terbatas, setiap rupiah seharusnya diarahkan pada perlindungan dasar warga dan penguatan ketahanan kota terhadap risiko berulang.

Redaksi berpandangan: APBD bukan sekadar instrumen teknokratis, melainkan cermin keberpihakan pemerintah daerah. Ketika pengawasan kota mendapat porsi anggaran jauh lebih besar dibanding pengendalian banjir, publik berhak mempertanyakan apakah keselamatan warga telah benar-benar ditempatkan sebagai prioritas utama.

Pada akhirnya, Jakarta membutuhkan keseimbangan kebijakan: teknologi pengawasan penting, tetapi tidak boleh mengalahkan urgensi perlindungan warga dari bencana yang setiap tahun datang tanpa kompromi. Kamera dapat merekam banjir, namun hanya kebijakan anggaran yang tepat yang mampu mencegahnya.

– Redaksi: DAYA BORNEO

  • Penulis: D'Borneo

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kalteng Diselimuti Asap, DPR RI Syauqie Desak Pemerintah Jangan Tunggu Korban Berjatuhan

    Kalteng Diselimuti Asap, DPR RI Syauqie Desak Pemerintah Jangan Tunggu Korban Berjatuhan

    • calendar_month Sab, 20 Jun 2026
    • account_circle fe
    • visibility 57
    • 0Komentar

    PALANGKA RAYA, Dayaborneo – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menekan Kalimantan Tengah. Asap tebal yang menyelimuti sejumlah wilayah mulai mengganggu aktivitas masyarakat dan memunculkan kekhawatiran terhadap kesehatan. Situasi tersebut mendorong Anggota Fraksi PAN DPR RI dari daerah pemilihan Kalimantan Tengah, Muhammad Syauqie, meminta pemerintah bergerak lebih serius. Menurutnya, penanganan karhutla tidak boleh berhenti pada […]

  • Ketika Pertanyaan Publik Dianggap Provokasi

    Ketika Pertanyaan Publik Dianggap Provokasi

    • calendar_month Rab, 27 Mei 2026
    • account_circle D'Borneo
    • visibility 107
    • 0Komentar

    Polemik marka jalan biru di Kota Palangka Raya sejatinya bukan lagi sekadar soal cat yang memudar. Persoalan itu telah berkembang menjadi isu tentang transparansi, kualitas pekerjaan publik, dan cara pejabat merespons pertanyaan masyarakat. Karena itu, publik tentu terkejut ketika Ketua DPRD Kalimantan Tengah, Arton S. Dohong, justru melontarkan kalimat bernada sinis kepada wartawan yang mempertanyakan […]

  • Belanja Daerah Lamban, Mendagri Ultimatum Pemda

    Belanja Daerah Lamban, Mendagri Ultimatum Pemda

    • calendar_month Rab, 24 Des 2025
    • account_circle D'Borneo
    • visibility 158
    • 0Komentar

    DAYABORNEO, Jakarta – Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian menekan pemerintah daerah agar tidak lengah mengejar realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2025 menjelang tutup tahun anggaran. Ia menegaskan, rendahnya realisasi belanja daerah berpotensi menghambat perputaran ekonomi dan melemahkan daya beli masyarakat. Arahan itu disampaikan Tito saat memimpin Rapat Evaluasi Realisasi APBD Tahun […]

  • Indonesia Tegaskan Diplomasi Dialog dan Arah Pembangunan Inklusif di WEF Davos 2026

    Indonesia Tegaskan Diplomasi Dialog dan Arah Pembangunan Inklusif di WEF Davos 2026

    • calendar_month Sen, 26 Jan 2026
    • account_circle D'Borneo
    • visibility 108
    • 0Komentar

    DAYABORNEO — Indonesia menegaskan komitmennya pada diplomasi dialog dan pembangunan inklusif dalam World Economic Forum (WEF) 2026 di Davos, Swiss. Forum global tersebut mengusung tema “A Spirit of Dialogue” sebagai ajakan membangun komunikasi terbuka dan kolaboratif di tengah dinamika geopolitik yang kian kompleks. Dikutip dari akun Facebook nya, Dalam forum itu, Presiden RI Prabowo Subianto […]

  • Teras Narang Minta Pemerintah Kalteng Jangan Setengah Hati Tangani Karhutla

    Teras Narang Minta Pemerintah Kalteng Jangan Setengah Hati Tangani Karhutla

    • calendar_month Rab, 22 Jul 2026
    • account_circle D'Borneo
    • visibility 64
    • 0Komentar

    MAHARATINEWS, Palangka Raya – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi ancaman serius di Kalimantan Tengah. Memasuki pertengahan Juli 2026, Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran (BPB-PK) Provinsi Kalimantan Tengah mencatat sedikitnya 472 kejadian karhutla yang telah melalap sekitar 456,78 hektare lahan. Anggota DPD RI asal Kalimantan Tengah, Dr. Agustin Teras Narang, menilai kondisi tersebut harus […]

  • DPRD Kalteng Bongkar Problem Perkebunan, Konflik Lahan Baru Tertangani 26 Persen

    DPRD Kalteng Bongkar Problem Perkebunan, Konflik Lahan Baru Tertangani 26 Persen

    • calendar_month Jum, 15 Mei 2026
    • account_circle D'Borneo
    • visibility 99
    • 0Komentar

    DAYABORNEO, Palangka Raya – DPRD Provinsi Kalimantan Tengah menyoroti keras carut-marut tata kelola sektor perkebunan di Kalimantan Tengah. Dalam evaluasi terhadap Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Gubernur Tahun Anggaran 2025, legislatif menilai penyelesaian konflik perkebunan berjalan lambat, sementara pengawasan terhadap perusahaan besar swasta masih menyisakan banyak persoalan di lapangan. Sorotan itu disampaikan dalam Rapat Paripurna ke-4 […]

expand_less