Dua Hari Menyuarakan Aspirasi, Gubernur Agustiar Akhirnya Mau Temui Aliansi
- account_circle fe
- calendar_month Sel, 1 Sep 2026
- visibility 53
- comment 0 komentar

Dok. Gubernur Agustiar Sabran bersama jajaran duduk diam mendengarkan orasi perwakilan Aliansi Masyarakat Kalteng Melawan.
PALANGKA RAYA, Dayaborneo – Aksi Aliansi Masyarakat Kalimantan Tengah Melawan akhirnya berujung pada pertemuan langsung dengan Gubernur Kalimantan Tengah H. Agustiar Sabran. Dalam aksi jilid II yang digelar di halaman Kantor Gubernur Kalteng, Selasa (1/9/2026) sore, massa kembali mendesak pemerintah bergerak lebih cepat menangani karhutla dan kabut asap.
Massa tidak hanya menyoroti persoalan kebakaran, tetapi juga dampaknya terhadap kesehatan masyarakat. Salah seorang perwakilan perempuan dalam aksi tersebut menegaskan, asap menjadi ancaman serius yang tidak boleh dianggap remeh.
“Asap itu mengandung partikel-partikel racun. Apinya tidak berbahaya, yang berbahaya adalah asapnya bagi kita manusia yang jadi korban,” ujarnya.
Ia mendesak pemerintah segera mengambil langkah lebih serius, termasuk mempertimbangkan peningkatan status bencana jika kondisi terus memburuk.
“Harus ditangani secepat-cepatnya. Jika bisa ditetapkan sebagai bencana nasional agar penanganannya lebih maksimal,” katanya.
Koordinator Lapangan Dida Paramida kemudian membacakan enam tuntutan Aliansi Masyarakat Kalimantan Tengah Melawan.
Tuntutan itu mencakup percepatan penanganan karhutla, perlindungan hak masyarakat adat dan peladang, riset untuk mitigasi, peningkatan fasilitas relawan, transparansi anggaran karhutla serta pelaksanaan rapat bersama aliansi dalam waktu 3×24 jam.
Di hadapan massa, Agustiar tidak menolak kritik tersebut. Ia justru mengajak mahasiswa dan masyarakat ikut menjadi bagian dari pengawasan pemerintah.
“Kalau serahkan ke kami, banyak faktor. Ayo sama-sama dorong kami. Saya suka, jangan dikira saya enggak suka. Bangga saya, suka saya,” kata Agustiar.
Gubernur juga mengakui Kalteng menghadapi persoalan luas wilayah dan keterbatasan anggaran. Namun, ia menegaskan kondisi tersebut bukan alasan untuk berhenti bergerak.
“Saya harus maju. Saya nggak boleh menyerah. Ayo kita sama-sama bahu-membahu menjaga Kalimantan Tengah,” tegasnya.
Agustiar bahkan meminta masyarakat tidak takut mengkritik pemerintah selama kritik tersebut bertujuan memperbaiki keadaan.
“Kalau salah, kritik. Itu namanya teman. Itu namanya anak-anakku. Kalau membiarkan, ini menjerumuskan, kasihan masyarakatnya,” ujarnya.
Ia memastikan tuntutan massa menjadi perhatian pemerintah. Agustiar juga mengingatkan agar pertemuan tersebut tidak berhenti sebagai seremoni tanpa tindak lanjut.
“Jangan sampai berakhir di sini saja, habis itu besok hilang lagi. Ayo,” kata Agustiar. (fe)
- Penulis: fe

Saat ini belum ada komentar