Jumat, 30 Okt 2026
light_mode
Beranda » Artikel » Kalimantan Tengah Lahir dari Perlawanan Rakyat Dayak

Kalimantan Tengah Lahir dari Perlawanan Rakyat Dayak

  • account_circle D'Borneo
  • calendar_month Sab, 23 Mei 2026
  • visibility 122
  • comment 0 komentar

Kalimantan Tengah tidak lahir dari hadiah kekuasaan. Provinsi ini lahir dari tekanan, tuntutan, dan perjuangan panjang masyarakat Dayak yang merasa tanah mereka selama bertahun-tahun hanya menjadi halaman belakang pembangunan di Pulau Kalimantan.

Jauh sebelum resmi berdiri pada 23 Mei 1957, suara kemarahan rakyat pedalaman sudah menggema dari Barito, Kapuas, hingga Kotawaringin. Masyarakat Dayak saat itu menilai pemerintah terlalu jauh dari kehidupan rakyat di pedalaman. Jalan nyaris tidak ada, pendidikan tertinggal, layanan kesehatan sulit dijangkau, sementara hasil bumi Kalimantan terus mengalir keluar.

Rakyat Dayak kala itu sadar satu hal: tanpa provinsi sendiri, suara pedalaman akan terus tenggelam.

Ketika Pedalaman Mulai Melawan Ketertinggalan

Awal 1950-an menjadi titik penting kebangkitan politik masyarakat Dayak. Ketimpangan pembangunan mulai memunculkan kesadaran besar bahwa masyarakat pedalaman harus menentukan arah masa depannya sendiri.

Wilayah Kalimantan yang terlalu luas membuat pemerintahan tidak efektif menjangkau pedalaman. Aspirasi rakyat sulit didengar. Infrastruktur tertinggal. Sungai menjadi satu-satunya jalur kehidupan bagi banyak wilayah.

Di tengah kondisi itu, masyarakat Dayak mulai membangun kekuatan politik dan sosial. Berbagai tuntutan pembentukan provinsi terus disuarakan kepada pemerintah pusat.

Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah mencatat, desakan pembentukan provinsi datang kuat dari masyarakat Dayak di Barito, Kapuas, dan Kotawaringin. Gerakan itu bukan gerakan elit semata, tetapi lahir dari keresahan rakyat pedalaman yang ingin keluar dari ketertinggalan.

IKAD dan Api Perjuangan Rakyat Dayak

Salah satu kekuatan penting dalam perjuangan itu ialah Ikatan Keluarga Dayak (IKAD) di Banjarmasin. Organisasi ini menjadi motor lahirnya Panitia Penyalur Hasrat Rakyat Kalimantan Tengah (PPHRKT), wadah perjuangan politik masyarakat Dayak untuk mendesak pemerintah pusat membentuk Provinsi Kalimantan Tengah.

Desakan itu akhirnya tidak bisa lagi diabaikan Jakarta.

Presiden Soekarno kemudian menyetujui pembentukan Provinsi Kalimantan Tengah melalui Undang-Undang Darurat Nomor 10 Tahun 1957. Sejarah baru dimulai. Untuk pertama kalinya, masyarakat Dayak memiliki provinsi sendiri di jantung Borneo.

RTA Milono kemudian ditunjuk menjadi gubernur pertama untuk membangun daerah baru yang lahir dari perjuangan rakyat pedalaman.

Isen Mulang, Bukan Sekadar Slogan

Kelahiran Kalimantan Tengah bukan sekadar pembentukan wilayah administratif. Ia menjadi simbol kebangkitan masyarakat Dayak dalam memperjuangkan harga diri, identitas, dan hak menentukan pembangunan daerahnya sendiri.

Dari sejarah itulah lahir semangat “Isen Mulang” — pantang mundur, pantang menyerah.

Semangat itu masih hidup hingga hari ini. Namun perjuangan belum selesai.

Kaya Sumber Daya, Tapi Ketimpangan Masih Nyata

Di usia yang kini hampir tujuh dekade, Kalimantan Tengah tumbuh menjadi salah satu provinsi terbesar di Indonesia dengan kekayaan alam luar biasa. Hutan tropis, perkebunan sawit, pertambangan, hingga sungai besar menjadi penopang ekonomi daerah.

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan ekonomi Kalimantan Tengah tahun 2025 tumbuh 4,80 persen dengan nilai PDRB mencapai Rp241,1 triliun. Pertumbuhan itu didorong sektor perkebunan, pertambangan, perdagangan, dan pembangunan infrastruktur.

Namun di balik angka pertumbuhan itu, wajah pedalaman belum sepenuhnya berubah.

Masih banyak wilayah yang bergantung pada jalur sungai. Akses pendidikan dan layanan kesehatan di sejumlah daerah terpencil masih menjadi persoalan. Ketimpangan pembangunan antara perkotaan dan pedalaman belum sepenuhnya selesai.

Ironisnya, tanah Dayak yang kaya sumber daya justru terus menghadapi tekanan besar dari ekspansi industri dan modernisasi.

Ancaman Baru: Budaya Dayak Perlahan Tergeser

Jika dahulu masyarakat Dayak berjuang melawan ketertinggalan pembangunan, hari ini mereka menghadapi tantangan baru yang tidak kalah besar: mempertahankan identitas budaya di tengah arus globalisasi.

Modernisasi perlahan menggeser budaya lokal. Bahasa daerah mulai jarang digunakan di perkotaan. Generasi muda semakin akrab dengan budaya digital global dibanding tradisi leluhur mereka sendiri.

Karena itu, perjuangan masyarakat Dayak hari ini bukan lagi sekadar soal wilayah administratif. Perjuangan itu berubah menjadi upaya menjaga identitas agar masyarakat lokal tidak menjadi penonton di tanahnya sendiri.

Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah kini mencoba menjaga api budaya melalui Festival Budaya Isen Mulang (FBIM), penguatan filosofi Huma Betang, hingga pengembangan ekonomi kreatif berbasis budaya Dayak.

Kalimantan Tengah Tidak Boleh Kehilangan Akar

Sejarah telah membuktikan, Kalimantan Tengah lahir dari keberanian rakyat Dayak melawan ketertinggalan dan ketidakadilan pembangunan.

Kini, tantangan zaman memang berubah. Tetapi pesan sejarahnya tetap sama: masyarakat Dayak tidak boleh kehilangan hak, identitas, dan peran utama di tanahnya sendiri.

Sebab Kalimantan Tengah bukan sekadar wilayah di peta Indonesia. Provinsi ini lahir dari suara rakyat pedalaman yang memilih bangkit dan melawan untuk masa depan mereka sendiri. (red)

  • Penulis: D'Borneo

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • DPRD Bongkar Dugaan Pelanggaran PT Binasawit Abadi Pratama, Konflik Lahan 29 Tahun Belum Tuntas

    DPRD Bongkar Dugaan Pelanggaran PT Binasawit Abadi Pratama, Konflik Lahan 29 Tahun Belum Tuntas

    • calendar_month Sen, 11 Mei 2026
    • account_circle D'Borneo
    • visibility 106
    • 0Komentar

    DAYABORNEO, Palangka Raya — Konflik lahan antara masyarakat Desa Sebabi dan Bangkal dengan PT Binasawit Abadi Pratama (BAP) kembali memicu sorotan tajam. Anggota DPRD Kabupaten Kotawaringin Timur, Parimus, SE., secara terbuka mempertanyakan legalitas aktivitas perusahaan yang disebut telah melakukan replanting di tengah sengketa lahan dan tuntutan plasma yang belum pernah diselesaikan selama hampir tiga dekade. Pernyataan […]

  • Angka serapan APBD sering dianggap sekadar urusan administrasi pemerintah. Padahal, di balik angka tersebut ada jalan yang belum dibangun

    APBD Kalteng Baru Terserap 30 Persen, Uangnya Ada di Mana?

    • calendar_month Sen, 17 Agu 2026
    • account_circle fe
    • visibility 40
    • 0Komentar

    Angka serapan APBD sering dianggap sekadar urusan administrasi pemerintah. Padahal, di balik angka tersebut ada jalan yang belum dibangun, program yang belum berjalan, pekerjaan yang belum dimulai, hingga aktivitas ekonomi masyarakat yang bisa ikut tertahan. Kondisi inilah yang membuat realisasi APBD Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah hingga akhir Juli 2026 menarik perhatian. Dari total pagu sekitar […]

  • Wagub Kalteng Tagih Peran Nyata Kadin, Dunia Usaha Jangan Jadi Penonton Pembangunan

    Wagub Kalteng Tagih Peran Nyata Kadin, Dunia Usaha Jangan Jadi Penonton Pembangunan

    • calendar_month Jum, 10 Jul 2026
    • account_circle D'Borneo
    • visibility 32
    • 0Komentar

    DAYABORNEO, Palangka Raya – Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah mengirim pesan tegas kepada Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kalimantan Tengah. Di tengah besarnya potensi investasi dan ambisi mendorong pertumbuhan ekonomi, dunia usaha diminta tidak hanya hadir dalam forum-forum organisasi, tetapi benar-benar menjadi motor penggerak pembangunan daerah. Pesan itu disampaikan Wakil Gubernur Kalimantan Tengah Edy Pratowo saat […]

  • Belanja Hibah dan Bansos Barito Timur Ikut Disorot KPK

    Belanja Hibah dan Bansos Barito Timur Ikut Disorot KPK

    • calendar_month Sel, 26 Mei 2026
    • account_circle D'Borneo
    • visibility 75
    • 0Komentar

    DAYABORNEO, Jakarta — Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) turut menyoroti tingginya belanja hibah, bantuan sosial (bansos), dan bantuan keuangan di Kabupaten Barito Timur, Kalimantan Tengah. Di tengah penurunan APBD tahun 2026, KPK menilai pengelolaan anggaran tersebut perlu diawasi ketat agar tidak menjadi celah penyimpangan dan kepentingan politik anggaran. Melalui Direktorat Koordinasi dan Supervisi (Korsup) Wilayah III, […]

  • Viral Video Kadisdik Kalteng, Polemik MBG Dibawa ke Hadapan Gubernur Agustiar

    Viral Video Kadisdik Kalteng, Polemik MBG Dibawa ke Hadapan Gubernur Agustiar

    • calendar_month Rab, 2 Sep 2026
    • account_circle fe
    • visibility 38
    • 0Komentar

    PALANGKA RAYA, Dayaborneo – Polemik video viral Kepala Dinas Pendidikan Kalimantan Tengah (Kadisdik Kalteng) M. Reza Prabowo mengenai program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan kesehatan siswa ikut dibawa dalam pertemuan masyarakat dengan Gubernur Kalteng Agustiar Sabran. Isu tersebut mencuat saat Agustiar menerima Aliansi Masyarakat Kalteng Melawan di halaman Kantor Gubernur Kalteng, Selasa (1/9/2026) sore. Di tengah […]

  • Gubernur Kalteng Berangkatkan 323 Penumpang Bus Gratis Nataru

    Gubernur Kalteng Berangkatkan 323 Penumpang Bus Gratis Nataru

    • calendar_month Sen, 22 Des 2025
    • account_circle D'Borneo
    • visibility 152
    • 0Komentar

    DAYABORNEO, Palangka Raya – Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah kembali menghadirkan layanan transportasi publik bagi masyarakat melalui program Angkutan Bus Gratis dalam rangka menyambut Natal 2025 dan Tahun Baru 2026. Program tersebut ditandai dengan pelepasan sembilan unit bus oleh Gubernur Kalimantan Tengah Agustiar Sabran di Pos Terpadu Polisi Kawasan Bundaran Besar Palangka Raya, Senin (22/12/2025). Kepala […]

expand_less