Senin, 27 Jul 2026
light_mode
Beranda » Artikel » Kalimantan Tengah Lahir dari Perlawanan Rakyat Dayak

Kalimantan Tengah Lahir dari Perlawanan Rakyat Dayak

  • account_circle D'Borneo
  • calendar_month Sab, 23 Mei 2026
  • visibility 83
  • comment 0 komentar

Kalimantan Tengah tidak lahir dari hadiah kekuasaan. Provinsi ini lahir dari tekanan, tuntutan, dan perjuangan panjang masyarakat Dayak yang merasa tanah mereka selama bertahun-tahun hanya menjadi halaman belakang pembangunan di Pulau Kalimantan.

Jauh sebelum resmi berdiri pada 23 Mei 1957, suara kemarahan rakyat pedalaman sudah menggema dari Barito, Kapuas, hingga Kotawaringin. Masyarakat Dayak saat itu menilai pemerintah terlalu jauh dari kehidupan rakyat di pedalaman. Jalan nyaris tidak ada, pendidikan tertinggal, layanan kesehatan sulit dijangkau, sementara hasil bumi Kalimantan terus mengalir keluar.

Rakyat Dayak kala itu sadar satu hal: tanpa provinsi sendiri, suara pedalaman akan terus tenggelam.

Ketika Pedalaman Mulai Melawan Ketertinggalan

Awal 1950-an menjadi titik penting kebangkitan politik masyarakat Dayak. Ketimpangan pembangunan mulai memunculkan kesadaran besar bahwa masyarakat pedalaman harus menentukan arah masa depannya sendiri.

Wilayah Kalimantan yang terlalu luas membuat pemerintahan tidak efektif menjangkau pedalaman. Aspirasi rakyat sulit didengar. Infrastruktur tertinggal. Sungai menjadi satu-satunya jalur kehidupan bagi banyak wilayah.

Di tengah kondisi itu, masyarakat Dayak mulai membangun kekuatan politik dan sosial. Berbagai tuntutan pembentukan provinsi terus disuarakan kepada pemerintah pusat.

Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah mencatat, desakan pembentukan provinsi datang kuat dari masyarakat Dayak di Barito, Kapuas, dan Kotawaringin. Gerakan itu bukan gerakan elit semata, tetapi lahir dari keresahan rakyat pedalaman yang ingin keluar dari ketertinggalan.

IKAD dan Api Perjuangan Rakyat Dayak

Salah satu kekuatan penting dalam perjuangan itu ialah Ikatan Keluarga Dayak (IKAD) di Banjarmasin. Organisasi ini menjadi motor lahirnya Panitia Penyalur Hasrat Rakyat Kalimantan Tengah (PPHRKT), wadah perjuangan politik masyarakat Dayak untuk mendesak pemerintah pusat membentuk Provinsi Kalimantan Tengah.

Desakan itu akhirnya tidak bisa lagi diabaikan Jakarta.

Presiden Soekarno kemudian menyetujui pembentukan Provinsi Kalimantan Tengah melalui Undang-Undang Darurat Nomor 10 Tahun 1957. Sejarah baru dimulai. Untuk pertama kalinya, masyarakat Dayak memiliki provinsi sendiri di jantung Borneo.

RTA Milono kemudian ditunjuk menjadi gubernur pertama untuk membangun daerah baru yang lahir dari perjuangan rakyat pedalaman.

Isen Mulang, Bukan Sekadar Slogan

Kelahiran Kalimantan Tengah bukan sekadar pembentukan wilayah administratif. Ia menjadi simbol kebangkitan masyarakat Dayak dalam memperjuangkan harga diri, identitas, dan hak menentukan pembangunan daerahnya sendiri.

Dari sejarah itulah lahir semangat “Isen Mulang” — pantang mundur, pantang menyerah.

Semangat itu masih hidup hingga hari ini. Namun perjuangan belum selesai.

Kaya Sumber Daya, Tapi Ketimpangan Masih Nyata

Di usia yang kini hampir tujuh dekade, Kalimantan Tengah tumbuh menjadi salah satu provinsi terbesar di Indonesia dengan kekayaan alam luar biasa. Hutan tropis, perkebunan sawit, pertambangan, hingga sungai besar menjadi penopang ekonomi daerah.

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan ekonomi Kalimantan Tengah tahun 2025 tumbuh 4,80 persen dengan nilai PDRB mencapai Rp241,1 triliun. Pertumbuhan itu didorong sektor perkebunan, pertambangan, perdagangan, dan pembangunan infrastruktur.

Namun di balik angka pertumbuhan itu, wajah pedalaman belum sepenuhnya berubah.

Masih banyak wilayah yang bergantung pada jalur sungai. Akses pendidikan dan layanan kesehatan di sejumlah daerah terpencil masih menjadi persoalan. Ketimpangan pembangunan antara perkotaan dan pedalaman belum sepenuhnya selesai.

Ironisnya, tanah Dayak yang kaya sumber daya justru terus menghadapi tekanan besar dari ekspansi industri dan modernisasi.

Ancaman Baru: Budaya Dayak Perlahan Tergeser

Jika dahulu masyarakat Dayak berjuang melawan ketertinggalan pembangunan, hari ini mereka menghadapi tantangan baru yang tidak kalah besar: mempertahankan identitas budaya di tengah arus globalisasi.

Modernisasi perlahan menggeser budaya lokal. Bahasa daerah mulai jarang digunakan di perkotaan. Generasi muda semakin akrab dengan budaya digital global dibanding tradisi leluhur mereka sendiri.

Karena itu, perjuangan masyarakat Dayak hari ini bukan lagi sekadar soal wilayah administratif. Perjuangan itu berubah menjadi upaya menjaga identitas agar masyarakat lokal tidak menjadi penonton di tanahnya sendiri.

Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah kini mencoba menjaga api budaya melalui Festival Budaya Isen Mulang (FBIM), penguatan filosofi Huma Betang, hingga pengembangan ekonomi kreatif berbasis budaya Dayak.

Kalimantan Tengah Tidak Boleh Kehilangan Akar

Sejarah telah membuktikan, Kalimantan Tengah lahir dari keberanian rakyat Dayak melawan ketertinggalan dan ketidakadilan pembangunan.

Kini, tantangan zaman memang berubah. Tetapi pesan sejarahnya tetap sama: masyarakat Dayak tidak boleh kehilangan hak, identitas, dan peran utama di tanahnya sendiri.

Sebab Kalimantan Tengah bukan sekadar wilayah di peta Indonesia. Provinsi ini lahir dari suara rakyat pedalaman yang memilih bangkit dan melawan untuk masa depan mereka sendiri. (red)

  • Penulis: D'Borneo

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • MBG Merupakan Mesin Ekonomi Rakyat di Kalteng

    MBG Merupakan Mesin Ekonomi Rakyat di Kalteng

    • calendar_month Rab, 21 Jan 2026
    • account_circle D'Borneo
    • visibility 89
    • 0Komentar

    DAYABORNEO, Palangka Raya – Badan Gizi Nasional (BGN) menegaskan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak boleh direduksi sekadar urusan dapur dan distribusi makanan. Program ini disebut sebagai instrumen strategis negara untuk menggerakkan ekonomi rakyat hingga ke desa-desa, termasuk di Kalimantan Tengah. Penegasan itu disampaikan Deputi Bidang Pemantauan dan Pengawasan BGN, Letjen TNI (Purn) Dadang Hendrayuda, […]

  • Kartu Huma Betang Sejahtera Diluncurkan, Pemprov Kalteng Klaim Tepat Sasaran

    Kartu Huma Betang Sejahtera Diluncurkan, Pemprov Kalteng Klaim Tepat Sasaran

    • calendar_month Jum, 20 Feb 2026
    • account_circle D'Borneo
    • visibility 308
    • 0Komentar

    DAYABORNEO, Palangka Raya – Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah secara resmi menggeber peluncuran Kartu Huma Betang Sejahtera (KHBS) sebagai program bantuan sosial terintegrasi yang diklaim menjadi tulang punggung perlindungan kesejahteraan masyarakat, khususnya di wilayah pedalaman. Peluncuran digelar di Aula Jayang Tingang, Kantor Gubernur di Palangka Raya, dipimpin langsung oleh Gubernur Agustiar Sabran bersama jajaran pimpinan daerah, […]

  • Prabowo Klaim Pangkas Belanja Seremonial, Ratusan Triliun Rupiah Dialihkan ke Program MBG

    Prabowo Klaim Pangkas Belanja Seremonial, Ratusan Triliun Rupiah Dialihkan ke Program MBG

    • calendar_month Jum, 13 Feb 2026
    • account_circle D'Borneo
    • visibility 113
    • 0Komentar

    DAYABORNEO, Jakarta – Pemerintah pusat mengubah arah belanja negara pada tahun pertama kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dengan menekan pos anggaran yang dinilai minim dampak langsung bagi publik. Presiden menyebut, langkah efisiensi fiskal berhasil mengamankan ratusan triliun rupiah untuk dialihkan ke program prioritas yang menyentuh kebutuhan dasar masyarakat. Dalam forum Indonesia Economic Outlook 2026 di Wisma […]

  • Pansus DPRD Kalteng Perdalam Revisi Raperda Penanaman Modal

    Pansus DPRD Kalteng Perdalam Revisi Raperda Penanaman Modal

    • calendar_month Sen, 27 Apr 2026
    • account_circle D'Borneo
    • visibility 37
    • 0Komentar

    DAYABIRNEO, Palangka Raya — DPRD Provinsi Kalimantan Tengah  (Kalteng) melalui Panitia Khusus (Pansus) terus mengintensifkan pembahasan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang penyelenggaraan penanaman modal dan pelayanan terpadu satu pintu (PTSP). Pembahasan ini dilakukan untuk memastikan regulasi daerah selaras dengan aturan nasional terbaru, serta mampu memberikan kepastian hukum bagi para investor. Ketua Komisi II DPRD Kalimantan […]

  • Inflasi Kalteng Tembus 3,86 Persen, Harga Kebutuhan Pokok Terus Menekan Warga

    Inflasi Kalteng Tembus 3,86 Persen, Harga Kebutuhan Pokok Terus Menekan Warga

    • calendar_month Kam, 2 Apr 2026
    • account_circle D'Borneo
    • visibility 74
    • 0Komentar

    DAYABORNEO, Palangka Raya – Tekanan ekonomi mulai terasa nyata di Kalimantan Tengah. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan (year-on-year/y-on-y) pada Maret 2026 mencapai 3,86 persen, sebuah angka yang menunjukkan kenaikan harga kebutuhan masyarakat belum sepenuhnya terkendali. Kepala BPS Kalteng, Agnes Widiastuti, mengungkapkan bahwa lonjakan ini tercermin dari Indeks Harga Konsumen (IHK) yang naik menjadi […]

  • Hadiri RUPS Jamkrida, Sekda Arbert Tegaskan Pemko Palangka Raya Tak Tambah Modal

    Hadiri RUPS Jamkrida, Sekda Arbert Tegaskan Pemko Palangka Raya Tak Tambah Modal

    • calendar_month Jum, 26 Jun 2026
    • account_circle D'Borneo
    • visibility 41
    • 0Komentar

    DAYABORNEO, Palangka Raya – Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) PT Jamkrida Kalimantan Tengah menetapkan pembagian dividen sebesar 45 persen kepada para pemegang saham. Di tengah pembahasan strategi perusahaan, Pemerintah Kota Palangka Raya memastikan tidak mengubah komitmen penyertaan modal yang tetap bertahan di angka Rp3 miliar. Sekretaris Daerah Kota Palangka Raya, Arbert Tombak, mengatakan seluruh agenda RUPS […]

expand_less