Sumber Air Terbatas, DPRD Kalteng Dorong Solusi Jangka Panjang Atasi Karhutla
- account_circle fe
- calendar_month Sel, 4 Agu 2026
- visibility 78
- comment 0 komentar

PALANGKA RAYA, Dayabirneo – Persoalan minimnya sumber air di kawasan gambut kembali menjadi sorotan dalam upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah, khususnya saat memasuki musim kemarau.
Anggota Komisi II DPRD Provinsi Kalimantan Tengah, Sutik, mengatakan keterbatasan pasokan air di lokasi kebakaran membuat proses pemadaman api menjadi tidak mudah.
“Selama ini untuk memadamkan api saja sulit, karena asupan air di daerah tersebut sangat minim. Itu yang menjadi tantangan di lapangan,” katanya, Senin (3/8/2026).
Ia menuturkan, kondisi gambut yang kering saat kemarau membuat api merambat cepat dan sulit dijinakkan. Petugas gabungan sebenarnya telah bersiaga dan bergerak cepat memadamkan titik api, baik lewat jalur darat maupun menyusuri perairan menggunakan kapal. Namun, kondisi cuaca ekstrem tetap menjadi faktor penghambat utama di lapangan.
Menurut Sutik, sebagian besar lahan yang terbakar berstatus kawasan hutan. Ia menilai perlu ada solusi jangka panjang agar lahan pascakebakaran tidak dibiarkan terbengkalai begitu saja. Salah satu opsi yang ia dorong adalah pemanfaatan lahan gambut untuk tanaman produktif yang cocok dengan karakteristik tanahnya.
“Kalau bisa lahan itu ditanami, supaya ada manfaat dan sekaligus mengurangi risiko kebakaran. Jangan sampai dibiarkan kosong,” ujarnya.
Ia menyebut tanaman karet sebagai salah satu alternatif yang dapat melibatkan masyarakat secara langsung, mengingat izin perkebunan skala besar seperti kelapa sawit di lahan gambut relatif lebih rumit diperoleh.
Lebih lanjut, Sutik menggarisbawahi pentingnya kekompakan warga dalam mencegah karhutla. Ia mencontohkan sejumlah wilayah yang berhasil meminimalkan kebakaran berkat semangat gotong royong menjaga lahan masing-masing.
“Kalau masyarakat kompak, seperti yang terjadi di beberapa daerah, mereka bisa gotong royong menjaga lahannya agar tidak terbakar. Itu yang perlu didorong,” tuturnya.
Ia berharap pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat dapat bersinergi mengelola lahan gambut secara berkelanjutan untuk menekan risiko karhutla di masa depan. (red-fe)
- Penulis: fe

Saat ini belum ada komentar