Kartini Tak Cukup Dirayakan, Perempuan Kalteng Harus Jadi Motor Perubahan Nyata
- account_circle D'Borneo
- calendar_month Sel, 21 Apr 2026
- visibility 38
- comment 0 komentar

Dok. Foto Bersama.
DAYABORNEO, Palangka Raya – Peringatan Hari Kartini ke-147 di Kalimantan Tengah tak berhenti pada seremoni. Gubernur Kalteng, Agustiar Sabran, menegaskan bahwa semangat Raden Ajeng Kartini harus diwujudkan dalam peran nyata perempuan di tengah tantangan zaman.
Dalam peringatan yang digelar di Aula Jayang Tingang, Selasa (21/4/2026), Gubernur secara terbuka menyatakan bahwa perempuan kini tidak lagi sekadar pelengkap, tetapi sudah menjadi kekuatan utama dalam menopang ekonomi dan pembangunan daerah.
“Perempuan di Kalteng bukan hanya pilar keluarga, tapi juga motor penggerak ekonomi. Ini fakta yang tidak bisa dibantah,” tegasnya.
Ia menyoroti bahwa kontribusi perempuan sudah terlihat di berbagai lini, mulai dari birokrasi, dunia pendidikan, layanan kesehatan, hingga sektor UMKM. Namun, menurutnya, peran tersebut harus terus diperkuat agar tidak sekadar simbolis, melainkan benar-benar menentukan arah pembangunan.
Gubernur juga mengingatkan bahwa perempuan memiliki posisi strategis dalam mengawal isu-isu krusial daerah. Ia mendorong keterlibatan aktif perempuan dalam menekan angka stunting, mencegah perkawinan usia anak, hingga melawan kekerasan terhadap perempuan dan anak yang masih menjadi persoalan serius.
Tak hanya itu, ia menegaskan pentingnya peran perempuan dalam memastikan program pemerintah tepat sasaran, termasuk melalui Kartu Huma Betang Sejahtera (KHBS) yang menyasar langsung masyarakat.
Sementara itu, Ketua TP PKK Kalteng, Aisyah Thisia Agustiar Sabran, mengingatkan bahwa perjuangan Kartini di era modern tidak cukup dimaknai sebagai kesetaraan semata.
“Perempuan hari ini harus berani mengambil peran strategis, bukan hanya hadir, tapi menentukan,” ujarnya tegas.
Peringatan ini juga diwarnai fashion show kebaya bertajuk “Pesona Kartini 2026 The Heritage Runaway”. Namun lebih dari sekadar simbol budaya, momentum ini menjadi pengingat bahwa perjuangan Kartini belum selesai—dan kini berada di tangan perempuan masa kini untuk benar-benar mengubah keadaan. (red-fe)
- Penulis: D'Borneo

Saat ini belum ada komentar