Mahasiswa Kelompok BBK Unair Ajak Warga Bakalrejo Sulap Sampah Dapur Jadi Eco Enzyme
- account_circle D'Borneo
- calendar_month Sen, 26 Jan 2026
- visibility 83
- comment 0 komentar

Tim BBK 7 Universitas Airlangga melaksanakan loka karya pembuatan eco enzyme di Desa Bakalrejo, Sabtu (24/1/2026).
DAYABORNEO, Lamongan – Tumpukan sampah bioorganik dari aktivitas rumah tangga masih menjadi momok di banyak daerah, termasuk Desa Bakalrejo. Sampah dapur yang selama ini berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dan menyumbang sekitar 30 persen timbunan limbah, kini mulai dilawan dengan cara berbeda. Kelompok Belajar Bersama Komunitas (BBK) Universitas Airlangga turun langsung ke tengah warga melalui Lokakarya Pembuatan Eco Enzyme, Sabtu (24/1/2026).
Kegiatan ini bukan sekadar sosialisasi, tetapi ajakan nyata untuk mengubah pola pikir masyarakat terhadap sampah. Dipimpin oleh mahasiswa Unair, Eleazar Josiah Tirtakusuma dan Alika Fathia Putri, lokakarya dirancang padat dan aplikatif. Peserta tidak hanya mendengar penjelasan, tetapi langsung mempraktikkan pengolahan sampah bioorganik menjadi eco enzyme, cairan alami multifungsi pengganti bahan kimia sintetis.
“Eco enzyme penting karena mengurangi limbah organik, memperbaiki kualitas lingkungan, mendukung kesehatan, menekan biaya rumah tangga, serta menumbuhkan kesadaran warga Desa Bakalrejo terhadap praktik berkelanjutan secara konsisten bersama untuk masa depan bersih,” tegas Alika saat diwawancarai. Ia menambahkan, “Harapan kita warga Bakalrejo akan mempraktikkan pembuatan eco enzyme ini sendiri ke depannya.”
Eco enzyme dihasilkan dari fermentasi sampah organik, gula merah, dan air. Hasilnya berupa cairan berwarna cokelat dengan aroma asam segar yang dapat dimanfaatkan sebagai pembersih alami, perawatan lingkungan, hingga membantu memperbaiki kualitas air dan tanah. Solusi sederhana ini dinilai efektif untuk diterapkan di tingkat rumah tangga.
Antusiasme warga terlihat jelas. Sebanyak 31 peserta, mulai dari generasi muda hingga ibu rumah tangga, mengikuti kegiatan hingga tuntas. Mereka aktif bertanya dan terlibat langsung dalam setiap tahapan pembuatan eco enzyme.
Didukung oleh PT Forisa Nusapersada sebagai mitra, lokakarya ini menjadi langkah konkret BBK Unair dalam mendorong pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Kegiatan tersebut sekaligus berkontribusi pada pencapaian SDG 12 (Konsumsi dan Produksi Bertanggung Jawab), SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera), serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan), dengan satu pesan kuat: sampah bukan akhir, melainkan awal perubahan. (red-fe)
- Penulis: D'Borneo

Saat ini belum ada komentar