Prabowo Mulai Rapikan Uang Ekspor, Devisa RI Tak Boleh Lagi “Kabur” ke Luar Negeri
- account_circle D'Borneo
- calendar_month Jum, 22 Mei 2026
- visibility 48
- comment 0 komentar

Dok. BPMI Setpres
DAYABORNEO, Jakarta — Pemerintah era Presiden Prabowo Subianto mulai menunjukkan sikap keras terhadap arus devisa hasil ekspor (DHE). Hal itu diungkap dalam rapat terbatas di Istana Merdeka, Kamis (21/05/2026).
Prabowo memastikan kebijakan DHE siap diberlakukan awal Juni 2026 demi memperkuat posisi ekonomi nasional di tengah tekanan global.
Kebijakan ini menjadi sinyal bahwa negara tidak ingin lagi hanya menjadi penghasil bahan mentah, sementara keuntungan finansial justru lebih banyak berputar di luar negeri.
Pemerintah menegaskan ekspor komoditas strategis tetap berjalan seperti biasa. Namun kali ini, negara ingin memastikan devisa dari hasil bumi Indonesia benar-benar memberi dampak nyata bagi perekonomian nasional dan penguatan rupiah.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan seluruh regulasi pendukung sedang dirampungkan agar implementasi kebijakan berjalan tepat waktu tanpa mengganggu dunia usaha.
“Presiden meminta implementasi berjalan baik, ekspor tetap lancar, tetapi devisa negara juga harus terjaga,” kata Airlangga kepada media usai rapat.
Dalam pembahasan itu, pemerintah turut menyiapkan mekanisme ekspor crude palm oil (CPO), batu bara, dan ferro alloy melalui PT Danantara Sumber Daya Indonesia. Langkah tersebut dipandang sebagai bentuk kontrol negara terhadap sektor-sektor yang selama ini menjadi penyumbang devisa terbesar Indonesia.
Pemerintah juga akan melakukan sosialisasi kepada asosiasi eksportir dan pelaku usaha agar transisi kebijakan tidak memicu gejolak perdagangan.
Di tengah kondisi ekonomi dunia yang belum stabil, pemerintah menyiapkan sejumlah strategi tambahan untuk menjaga pertumbuhan nasional. Mulai dari opsi work from home selama dua bulan hingga pemberian insentif ekonomi pada kuartal kedua 2026 menjadi bagian dari paket pengamanan ekonomi nasional.
Langkah Prabowo membaca situasi ini dianggap penting. Ketika banyak negara berlomba mempertahankan devisa dan memperkuat mata uangnya, Indonesia kini mulai memperketat kendali terhadap uang hasil ekspor sumber daya alamnya sendiri.(red-fe)
- Penulis: D'Borneo

Saat ini belum ada komentar