Rupiah Anjlok Tembus Rp18.000 per Dolar, Pemerintah Minta Publik Tetap Tenang
- account_circle D'Borneo
- calendar_month Sab, 6 Jun 2026
- visibility 96
- comment 0 komentar

Dok. BOMI Setpres.
DAYABORNEO, Jakarta — Pelemahan nilai tukar rupiah hingga menyentuh level Rp18.000 per dolar AS kembali memicu kekhawatiran di kalangan pelaku usaha dan masyarakat. Namun di tengah tekanan pasar yang meningkat, pemerintah meminta publik tidak terpancing kepanikan dan tetap melihat kondisi ekonomi nasional secara menyeluruh.
Pemerintah menegaskan bahwa pergerakan nilai tukar saat ini masih terus dipantau secara intensif melalui koordinasi antara Kementerian Keuangan, Bank Indonesia (BI), dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Langkah-langkah stabilisasi juga terus disiapkan untuk menjaga kepercayaan pasar dan ketahanan ekonomi nasional.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengatakan gejolak nilai tukar yang terjadi tidak dapat dilepaskan dari dinamika ekonomi global yang saat ini masih dibayangi ketidakpastian tinggi, mulai dari arah kebijakan suku bunga dunia, konflik geopolitik, hingga perlambatan ekonomi di sejumlah negara.
“Pemerintah bersama otoritas terkait terus melakukan pengawasan dan mengambil langkah-langkah yang diperlukan dalam merespons dinamika pergerakan nilai tukar,” ujar Prasetyo di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis (04/06/2026).
Meski rupiah mengalami tekanan, pemerintah menilai fondasi ekonomi Indonesia masih berada dalam kondisi yang relatif kuat. Pertumbuhan ekonomi tetap terjaga, inflasi terkendali, sektor perbankan stabil, dan konsumsi domestik masih menjadi penopang utama perekonomian nasional.
Karena itu, pemerintah meminta masyarakat tidak hanya melihat angka kurs semata, tetapi juga memperhatikan indikator ekonomi lainnya yang hingga kini masih menunjukkan ketahanan ekonomi nasional.
“Fundamental ekonomi kita kuat dan tetap terjaga,” tegas Prasetyo.
Pernyataan tersebut menjadi upaya pemerintah meredam kekhawatiran publik di tengah meningkatnya perhatian terhadap pergerakan rupiah. Pasalnya, pelemahan mata uang nasional sering kali memunculkan kekhawatiran terhadap harga barang impor, biaya produksi, hingga daya beli masyarakat.
Namun pemerintah optimistis koordinasi yang solid antara otoritas fiskal, moneter, dan sektor jasa keuangan mampu menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Di tengah tekanan global yang belum mereda, pemerintah memilih mengirim pesan sederhana kepada masyarakat: tetap waspada, tetapi tidak panik. Sebab bagi pemerintah, kekuatan ekonomi Indonesia saat ini masih cukup kokoh untuk menghadapi gelombang ketidakpastian yang datang dari luar negeri. (red-fe)
- Penulis: D'Borneo

Saat ini belum ada komentar