Prabowo Kencangkan Kendali Ekonomi RI, Mulai Tata Ulang Devisa dan Ekspor SDA
- account_circle D'Borneo
- calendar_month Sab, 23 Mei 2026
- visibility 66
- comment 0 komentar

Dok. Medsos FB Setkab RI.
DAYABORNEO, Jakarta — Indonesia sedang menghadapi gelombang ketidakpastian ekonomi global yang kian sulit diprediksi. Di tengah tekanan itu, pemerintah mulai bergerak memperkuat benteng pertahanan ekonomi nasional, dari menjaga stabilitas sektor keuangan hingga mengamankan devisa hasil ekspor dan tata kelola sumber daya alam strategis.
Hal itu mengemuka dalam pertemuan strategis bersama tokoh ekonomi dan jajaran pejabat utama di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Jumat (22/05/2026).
Pertemuan tersebut membahas penguatan sektor keuangan, pengawasan perbankan, percepatan kebijakan devisa hasil ekspor (DHE), hingga pembenahan tata kelola ekspor sumber daya alam nasional.
Langkah ini dipandang sebagai sinyal bahwa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto tidak ingin lagi membiarkan kekayaan alam Indonesia hanya menjadi sumber keuntungan segelintir pihak tanpa memberi dampak maksimal terhadap kekuatan ekonomi negara.
“Pemerintah akan terus memperkuat langkah strategis jangka panjang untuk menjaga ketahanan ekonomi nasional dan memastikan stabilitas sektor keuangan tetap terjaga,” tegas Prabowo.
Dalam forum itu, pemerintah memfokuskan perhatian pada penguatan fundamental ekonomi nasional melalui stabilitas sektor keuangan, penerapan prinsip prudential banking, hingga pengawasan perbankan yang lebih ketat dan terintegrasi.
Namun perhatian terbesar tertuju pada percepatan implementasi kebijakan DHE. Pemerintah ingin devisa hasil ekspor tetap berada dalam sistem keuangan domestik agar mampu memperkuat cadangan devisa nasional dan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Tak hanya itu, pemerintah juga mulai merancang pembenahan ekspor sumber daya alam melalui Danantara Sumberdaya Indonesia. Skema tersebut disiapkan untuk memperbesar penerimaan negara sekaligus memastikan hasil kekayaan alam Indonesia memberi manfaat ekonomi yang lebih berkelanjutan.
Pertemuan itu dihadiri Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Investasi sekaligus CEO Danantara Rosan Roeslani, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, serta sejumlah tokoh ekonomi nasional seperti Burhanuddin Abdullah dan Paskah Suzetta. (red-fe)
- Penulis: D'Borneo

Saat ini belum ada komentar