Kapuas Paling Tertekan, Inflasi Tembus 5 Persen
- account_circle D'Borneo
- calendar_month Kam, 2 Jul 2026
- visibility 35
- comment 0 komentar

Dok. Ilustrasi.
DAYABORNEO, Palangka Raya – Tekanan kenaikan harga di Kalimantan Tengah belum merata. Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan Kabupaten Kapuas menjadi daerah dengan inflasi tertinggi di provinsi ini, sementara Kabupaten Sukamara mencatat laju kenaikan harga paling rendah sepanjang Juni 2026.
Selisih inflasi antarwilayah tersebut menjadi sinyal bahwa daya beli masyarakat di setiap daerah menghadapi tekanan yang berbeda, bergantung pada kondisi pasokan, distribusi, hingga harga komoditas di lapangan.
Plt. Kepala BPS Provinsi Kalimantan Tengah, Maria Wahyu Utami, mengungkapkan inflasi tahunan (year-on-year/y-on-y) Kalimantan Tengah pada Juni 2026 mencapai 4,47 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 112,61.
“Kabupaten Kapuas menjadi daerah dengan inflasi year-on-year tertinggi sebesar 5,01 persen, sedangkan inflasi terendah terjadi di Kabupaten Sukamara sebesar 3,81 persen,” ujar Maria, Rabu (1/7/2026).
Tak hanya secara tahunan, Kapuas juga memimpin inflasi bulanan (month-to-month) sebesar 0,33 persen, sedangkan Sukamara kembali menjadi yang terendah dengan 0,13 persen.
Tingginya inflasi di Kapuas tidak lepas dari lonjakan harga sejumlah komoditas strategis yang menjadi kebutuhan sehari-hari masyarakat. Beras, bensin, minyak goreng, cabai rawit, ikan nila, ikan patin, bahan bakar rumah tangga, hingga tarif angkutan udara menjadi penyumbang utama kenaikan harga di Kalimantan Tengah.
BPS mencatat hampir seluruh kelompok pengeluaran mengalami inflasi. Tekanan terbesar datang dari kelompok makanan, minuman dan tembakau, transportasi, serta perawatan pribadi dan jasa lainnya yang menjadi motor utama kenaikan Indeks Harga Konsumen.
Meski demikian, tidak semua harga bergerak naik. Beberapa komoditas seperti daging ayam ras, terong, kelapa, cumi-cumi, dan buah naga justru mengalami penurunan harga sehingga sedikit meredam laju inflasi.
Perbedaan tingkat inflasi antarwilayah dinilai mencerminkan belum meratanya stabilitas pasokan dan distribusi barang di Kalimantan Tengah.
Kondisi tersebut menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah daerah dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) untuk memastikan distribusi pangan tetap lancar serta gejolak harga kebutuhan pokok tidak semakin membebani masyarakat, terutama di daerah dengan tekanan inflasi paling tinggi seperti Kabupaten Kapuas. (red-fe)
- Penulis: D'Borneo

Saat ini belum ada komentar