Produksi Nikel Dipangkas, Penambang Berpeluang Raup Untung
- account_circle fe
- calendar_month Ming, 21 Des 2025
- visibility 103
- comment 0 komentar

Foto ilustrasi lokasi tambang.
DAYABORNEO, Jakarta – Rencana pemerintah memangkas target produksi bijih nikel nasional pada 2026 dinilai berpotensi menjadi titik balik bagi industri pertambangan nikel di Indonesia. Kebijakan tersebut diperkirakan mendorong pemulihan harga nikel global sekaligus memperbaiki profitabilitas penambang lokal yang sempat tertekan akibat kelebihan pasokan.
Analis menilai pengurangan target produksi bijih nikel dari 379 juta ton pada 2025 menjadi sekitar 250 juta ton tahun depan akan menekan surplus pasokan di pasar global. Kondisi itu membuka peluang kenaikan harga nikel dunia dari kisaran US$14.000–US$15.000 per ton menuju US$16.000 hingga US$17.500 per ton.
Presiden Komisaris HFX Internasional Berjangka Sutopo Widodo mengatakan langkah Indonesia mengendalikan produksi akan berdampak langsung terhadap keseimbangan pasar nikel dunia. Menurutnya, berkurangnya pasokan dari produsen utama seperti Indonesia akan mempersempit ruang surplus yang selama ini menekan harga.
“Dengan pasokan bijih yang lebih terbatas, persaingan mendapatkan bahan baku di tingkat lokal akan meningkat, sehingga secara alami mendorong Harga Patokan Mineral (HPM) domestik ke level yang lebih tinggi,” ujar Sutopo, Jumat (19/12/2025).
Ia menilai kenaikan harga tersebut akan menjadi angin segar bagi penambang bijih nikel yang sebelumnya terhimpit oleh harga jual rendah. Namun demikian, Sutopo mengingatkan bahwa penguatan harga tetap bergantung pada permintaan industri hilir, khususnya sektor baja nirkarat dan baterai kendaraan listrik di China.
“Pengendalian produksi ini mengirim sinyal kuat bahwa Indonesia tidak lagi semata mengejar volume, tetapi mulai menjaga nilai ekonomi nikel demi keberlanjutan industri jangka panjang,” katanya.
Sejalan dengan itu, Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) memproyeksikan harga bijih nikel pada 2026 akan mengalami kenaikan. Harga saprolit diperkirakan naik hingga US$25 per ton, sementara limonit berpeluang mencapai US$30–US$40 per ton.
Sekretaris Umum APNI Meidy Katrin Lengkey menjelaskan Indonesia menyumbang sekitar 65 persen surplus nikel global pada 2026. Karena itu, pengendalian produksi dinilai krusial untuk menjaga stabilitas harga.
“Kalau Indonesia bisa menurunkan kapasitas produksi, harganya bisa naik. Itu sudah pasti hukum alam,” tegas Meidy. (red-fe)
- Penulis: fe

Saat ini belum ada komentar