Sawit Kalteng Harus Jadi Kekuatan Strategis di Tengah “Perang Energi”
- account_circle D'Borneo
- calendar_month Jum, 24 Apr 2026
- visibility 196
- comment 0 komentar

Dok. FB Dr. Agustin Teras Narang.
DAYABORNEO, Jakarta – Anggota MPR RI/DPD RI dari Kalimantan Tengah, Agustin Teras Narang, menegaskan bahwa komoditas sawit harus menjadi kekuatan strategis daerah di tengah dinamika global yang kian mengarah pada “perang energi”.
Mengacu data Badan Pusat Statistik, luas perkebunan sawit di Kalteng mencapai sekitar 2,16 juta hektare. Angka ini menempatkan Kalteng sebagai salah satu wilayah kunci dalam rantai pasok energi berbasis nabati nasional, terutama dalam pengembangan biodiesel.
Teras menilai, besarnya potensi tersebut belum sepenuhnya dioptimalkan untuk kesejahteraan masyarakat. Ia mendorong pemerintah daerah menyusun desain kebijakan yang lebih strategis dan terukur.
“Kita harus memastikan sawit tidak hanya menjadi komoditas ekspor, tetapi juga memberi nilai tambah nyata bagi rakyat,” tegas Teras, dikutip dari unggahan media sosial Facebook nya, Jumat (24/4/2026).
Secara global, ketegangan geopolitik dan fluktuasi harga energi mendorong banyak negara beralih ke energi alternatif, termasuk biofuel. Indonesia sebagai produsen sawit terbesar memiliki peluang besar, namun juga menghadapi tantangan distribusi manfaat di tingkat daerah.
Teras menyoroti pentingnya kolaborasi lintas sektor—mulai dari pemerintah daerah, pelaku usaha, hingga akademisi—untuk merumuskan kebijakan yang adil. Ia juga menyinggung persoalan klasik seperti kewajiban plasma perusahaan yang dinilai belum sepenuhnya berjalan optimal.
“Plasma harus kembali pada tujuan awalnya, yaitu menghadirkan keadilan bagi masyarakat sekitar perkebunan,” ujarnya.
Selain itu, ia mendorong penguatan forum kerja sama antarprovinsi penghasil sawit di Kalimantan guna memperkuat posisi tawar daerah terhadap pemerintah pusat.
Analisis menunjukkan, tanpa hilirisasi dan penguatan tata kelola, potensi sawit Kalteng berisiko hanya menjadi sumber bahan mentah. Padahal, dengan strategi yang tepat, sektor ini dapat menjadi motor pertumbuhan ekonomi sekaligus sumber kesejahteraan masyarakat.
Teras menutup pesannya dengan ajakan tegas: momentum harus dimanfaatkan sekarang. “Kalau bukan kita, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi?” (red-fe)
- Penulis: D'Borneo

Saat ini belum ada komentar