Jumat, 30 Okt 2026
light_mode
Beranda » Artikel » Pancasila Sudah Hidup di Tanah Dayak Sebelum Menjadi Dasar Negara

Pancasila Sudah Hidup di Tanah Dayak Sebelum Menjadi Dasar Negara

  • account_circle D'Borneo
  • calendar_month Sen, 1 Jun 2026
  • visibility 131
  • comment 0 komentar

Huma Betang, Warisan Kalimantan Tengah untuk Indonesia

Setiap tanggal 1 Juni, bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila sebagai momentum mengenang lahirnya dasar negara yang digagas oleh Presiden Soekarno pada 1945. Namun jauh sebelum Pancasila resmi menjadi fondasi kehidupan berbangsa, nilai-nilai yang terkandung di dalamnya sejatinya telah hidup dan dipraktikkan oleh masyarakat Dayak di Kalimantan Tengah.

Nilai persatuan, gotong royong, musyawarah, toleransi, hingga keadilan sosial telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Dayak melalui filosofi Huma Betang, sebuah konsep hidup bersama yang diwariskan turun-temurun sejak ratusan tahun lalu.

Di tengah berbagai tantangan sosial yang dihadapi bangsa saat ini, mulai dari polarisasi politik, penyebaran hoaks, hingga konflik identitas di ruang digital, falsafah Huma Betang justru semakin relevan untuk menguatkan semangat kebangsaan Indonesia.

Huma Betang, Miniatur Indonesia dari Jantung Borneo

Bagi masyarakat Dayak, Huma Betang bukan sekadar rumah panjang tradisional. Lebih dari itu, Huma Betang merupakan simbol kehidupan bersama yang mengajarkan bagaimana perbedaan dapat hidup berdampingan dalam satu ruang yang sama.

Di dalam satu Huma Betang, puluhan bahkan ratusan orang dapat tinggal bersama meskipun berasal dari latar belakang keluarga, keyakinan, dan kepentingan yang berbeda. Mereka memiliki ruang masing-masing, tetapi tetap menjunjung tinggi kepentingan bersama.

Nilai itulah yang kemudian dikenal sebagai filosofi Huma Betang, sebuah pandangan hidup yang menempatkan kebersamaan, toleransi, kesetaraan, dan musyawarah sebagai fondasi kehidupan masyarakat.

Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah bahkan menjadikan Huma Betang sebagai falsafah pembangunan daerah yang terus dikampanyekan dalam berbagai sektor kehidupan masyarakat.

Jika ditarik lebih luas, konsep tersebut memiliki kesamaan yang sangat kuat dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila. Persatuan Indonesia, musyawarah untuk mufakat, penghormatan terhadap perbedaan, hingga keadilan sosial telah hidup dalam praktik masyarakat Dayak jauh sebelum Indonesia merdeka.

Toleransi yang Menjadi Identitas Kalimantan Tengah

Salah satu bukti nyata hidupnya nilai-nilai Pancasila di Kalimantan Tengah dapat dilihat dari kehidupan masyarakat yang multietnis dan multireligius.

Kalimantan Tengah dihuni berbagai kelompok masyarakat, mulai dari Dayak, Banjar, Jawa, Bugis, Sunda, Batak, Madura, Melayu hingga Tionghoa. Beragam agama dan kepercayaan juga hidup berdampingan, mulai dari Islam, Kristen Protestan, Katolik, Hindu, Buddha hingga Kaharingan yang kini menjadi bagian dari agama Hindu.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Tengah menunjukkan jumlah penduduk provinsi ini telah mencapai lebih dari 2,8 juta jiwa dengan komposisi yang sangat beragam dari sisi etnis maupun agama.

Meski memiliki keberagaman tinggi, Kalimantan Tengah relatif mampu menjaga stabilitas sosial dan kerukunan masyarakat. Berbagai perayaan keagamaan berlangsung dalam suasana saling menghormati. Tidak jarang masyarakat berbeda agama ikut membantu pelaksanaan kegiatan keagamaan satu sama lain.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa toleransi di Kalimantan Tengah bukan hanya slogan, melainkan bagian dari budaya hidup masyarakat sehari-hari.

Ketika Pancasila Diuji di Era Digital

Meski demikian, tantangan zaman terus berubah. Jika generasi terdahulu menghadapi ancaman perpecahan secara fisik, generasi saat ini menghadapi ancaman baru yang datang melalui ruang digital.

Media sosial memungkinkan informasi menyebar dengan sangat cepat. Di satu sisi, teknologi membuka akses pengetahuan yang luas. Namun di sisi lain, penyebaran hoaks, ujaran kebencian, dan polarisasi sosial juga semakin mudah terjadi.

Berdasarkan berbagai survei nasional mengenai literasi digital, penyebaran informasi yang tidak terverifikasi masih menjadi tantangan serius dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

Dalam konteks tersebut, nilai-nilai Huma Betang menjadi semakin penting. Filosofi menghargai perbedaan, mengedepankan dialog, dan mengutamakan kepentingan bersama dapat menjadi benteng sosial menghadapi perpecahan yang kerap muncul di ruang digital.

Generasi muda Kalimantan Tengah memiliki peran strategis untuk membawa nilai-nilai tersebut ke era modern. Tidak hanya menjaga budaya Dayak, tetapi juga menjadikannya sebagai inspirasi dalam membangun ruang digital yang sehat dan inklusif.

Kebangkitan Pancasila dari Tanah Dayak

Peringatan Hari Lahir Pancasila seharusnya tidak hanya menjadi seremoni tahunan. Momentum ini perlu dimaknai sebagai upaya menghidupkan kembali nilai-nilai yang selama ini menjadi perekat bangsa.

Bagi Kalimantan Tengah, nilai itu bukan sesuatu yang asing. Masyarakat Dayak telah mewariskannya melalui filosofi Huma Betang yang hingga kini tetap hidup di tengah modernisasi.

Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah terus berupaya menjaga warisan tersebut melalui penguatan pendidikan karakter, pelestarian budaya lokal, pengembangan Festival Budaya Isen Mulang (FBIM), hingga berbagai program yang menanamkan nilai Huma Betang kepada generasi muda.

Di tengah dunia yang semakin terhubung namun rentan terpecah oleh perbedaan, Kalimantan Tengah sesungguhnya memiliki pelajaran penting untuk Indonesia.

Bahwa persatuan tidak lahir dari kesamaan, melainkan dari kemampuan menghormati perbedaan.

Dan jauh sebelum Pancasila ditetapkan sebagai dasar negara, masyarakat Dayak telah membuktikan bahwa nilai-nilai itu dapat hidup, tumbuh, dan menjaga harmoni dalam kehidupan sehari-hari.

Dari jantung Borneo, Huma Betang mengajarkan satu hal sederhana namun sangat penting bagi Indonesia: berbeda bukan alasan untuk terpecah, melainkan kekuatan untuk tetap bersatu. (red)

  • Penulis: D'Borneo

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • APBD Kalteng 2026 Ditetapkan Rp5,4 Triliun

    APBD Kalteng 2026 Ditetapkan Rp5,4 Triliun

    • calendar_month Sab, 20 Des 2025
    • account_circle fe
    • visibility 243
    • 0Komentar

    DAYABORNEO, Palangka Raya – Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah akhirnya menetapkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Tahun Anggaran 2026 sebesar Rp5,4 triliun. Penetapan tersebut tertuang melalui Berita Acara Persetujuan Bersama Nota Keuangan dan Rancangan Peraturan Daerah tentang APBD Kalteng 2026 yang disepakati dalam rapat paripurna bersama DPRD Kalteng. Penetapan anggaran tahun depan menjadi dasar bagi […]

  • Dibalik Pesan Notifikasi, KPK Usut Dugaan Korupsi Rp2 Triliun di BRI-Telkom

    Dibalik Pesan Notifikasi, KPK Usut Dugaan Korupsi Rp2 Triliun di BRI-Telkom

    • calendar_month Ming, 7 Jun 2026
    • account_circle D'Borneo
    • visibility 152
    • 0Komentar

    DAYABORNEO, Jakarta — Di era perbankan digital, notifikasi transaksi melalui SMS dan WhatsApp telah menjadi bagian tak terpisahkan dari aktivitas jutaan nasabah. Setiap transfer, penarikan, hingga pembayaran tercatat dan dikirim dalam hitungan detik. Namun di balik layanan yang tampak sederhana itu, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kini mencium dugaan penyimpangan bernilai fantastis yang melibatkan dua perusahaan […]

  • Pemprov Kalteng Pasang Arah Ekonomi Agresif Usai LPI 2025 BI

    Pemprov Kalteng Pasang Arah Ekonomi Agresif Usai LPI 2025 BI

    • calendar_month Kam, 29 Jan 2026
    • account_circle D'Borneo
    • visibility 81
    • 0Komentar

    DAYABORNEO, Palangka Raya – Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah tidak ingin sekadar menjadi penonton di tengah perlambatan ekonomi global. Merespons peluncuran Laporan Perekonomian Indonesia (LPI) 2025 Bank Indonesia, Pemprov Kalteng secara tegas memasang arah pembangunan ekonomi yang lebih agresif: hilirisasi dipercepat, investasi dipermudah, dan ketahanan ekonomi daerah diperkuat. Sikap ini disampaikan melalui sambutan tertulis Gubernur Kalimantan […]

  • Ketika Pertanyaan Publik Dianggap Provokasi

    Ketika Pertanyaan Publik Dianggap Provokasi

    • calendar_month Rab, 27 Mei 2026
    • account_circle D'Borneo
    • visibility 126
    • 0Komentar

    Polemik marka jalan biru di Kota Palangka Raya sejatinya bukan lagi sekadar soal cat yang memudar. Persoalan itu telah berkembang menjadi isu tentang transparansi, kualitas pekerjaan publik, dan cara pejabat merespons pertanyaan masyarakat. Karena itu, publik tentu terkejut ketika Ketua DPRD Kalimantan Tengah, Arton S. Dohong, justru melontarkan kalimat bernada sinis kepada wartawan yang mempertanyakan […]

  • Kejar-kejaran di Trans Kalimantan Berujung Penangkapan Kurir Narkoba 35 Kg

    Kejar-kejaran di Trans Kalimantan Berujung Penangkapan Kurir Narkoba 35 Kg

    • calendar_month Rab, 18 Feb 2026
    • account_circle D'Borneo
    • visibility 213
    • 0Komentar

    DAYABORNEO, Palangkaraya – Aparat Kepolisian Daerah Kalimantan Tengah membongkar upaya penyelundupan narkotika skala besar setelah menggagalkan pelarian dua pria yang membawa puluhan kilogram sabu di Jalan Trans Kalimantan. Aksi pengejaran berlangsung dramatis hingga ke kawasan hutan sebelum polisi berhasil menangkap kedua pelaku. Kapolda Kalimantan Tengah, Iwan Kurniawan, menjelaskan polisi mulai menaruh curiga terhadap sebuah mobil […]

  • Anak Muda Kalteng Harus Kuasai Panggung Ekonomi Kreatif di Kalimantan

    Anak Muda Kalteng Harus Kuasai Panggung Ekonomi Kreatif di Kalimantan

    • calendar_month Sel, 10 Feb 2026
    • account_circle D'Borneo
    • visibility 211
    • 0Komentar

    DAYABORNEO, Palangka Raya – Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah membuka front baru pembangunan daerah: ekonomi kreatif diposisikan sebagai mesin pertumbuhan masa depan. Mewakili Gubernur Agustiar Sabran, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Kalteng, Herson B. Aden, menegaskan komitmen itu dalam Studium Generale bertema “Ekonomi Kreatif sebagai Pilar Pemberdayaan Generasi Muda” di Aula UIN Palangka Raya, Selasa (10/2/2026). […]

expand_less