UPR Cetak Guru Besar Baru, Riset Gambut Didorong Jadi Senjata Hadapi Krisis Pangan Kalteng
- account_circle D'Borneo
- calendar_month Sab, 18 Apr 2026
- visibility 195
- comment 0 komentar

Suasana acara pengukuhan Evi Feronika sebagai Guru Besar pada Fakultas Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan.
DAYABORNEO, Palangka Raya – Universitas Palangka Raya (UPR) kembali menegaskan perannya sebagai motor intelektual daerah dengan mengukuhkan Guru Besar di bidang agribisnis dan pertanian berkelanjutan. Di tengah ancaman krisis pangan dan tekanan terhadap ekosistem gambut, dunia kampus didorong tidak hanya melahirkan teori, tetapi solusi nyata.
Rektor UPR Salampak secara resmi mengalungkan gordon kepada Evi Feronika sebagai Guru Besar pada Fakultas Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan. Pengukuhan berlangsung dalam Sidang Terbuka Senat yang dipimpin Ketua Senat Petrus Poewardi di Aula Rahan, Rabu (15/4/2026).
Dalam pidato pengukuhannya, Evi tidak sekadar bicara akademik. Ia menyoroti langsung persoalan strategis Kalimantan Tengah: bagaimana mengelola lahan gambut tanpa merusaknya, sekaligus menjadikannya sumber pangan berkelanjutan.
“Kalau tidak ada transformasi serius, kita akan terus terjebak antara eksploitasi dan krisis. Agribisnis harus berubah, bukan hanya produktif tapi juga berkelanjutan,” tegasnya.
Pernyataan itu menjadi alarm keras bagi semua pihak. Selama ini, pengelolaan gambut kerap berada di antara kepentingan ekonomi dan ancaman kerusakan lingkungan. Tanpa pendekatan ilmiah yang kuat, Kalteng berisiko kehilangan keduanya.
Staf Ahli Gubernur Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Pembangunan Yuas Elko yang hadir dalam acara tersebut mengakui pentingnya peran akademisi dalam mendorong arah pembangunan yang berbasis data dan riset.
Ia menegaskan bahwa pemerintah membutuhkan dukungan konkret dari perguruan tinggi, bukan hanya kajian di atas kertas. “Riset harus turun ke lapangan, menjawab kebutuhan masyarakat dan menjadi dasar kebijakan,” ujarnya.
Turut hadir Ketua DPRD Kalteng Arton S. Dohong serta sejumlah pemangku kepentingan. Namun pesan utama acara ini jelas: tanpa inovasi serius dari kampus, ketahanan pangan di wilayah gambut hanya akan menjadi wacana berulang.
UPR kini ditantang membuktikan—bahwa gelar profesor bukan sekadar simbol, tetapi titik awal perubahan nyata bagi Kalimantan Tengah. (red-fe)
- Penulis: D'Borneo

Saat ini belum ada komentar