Wagub Edy Pratowo Dorong Pendidikan Siap Kerja, UMPR Jawab Lewat D1 Pertanian
- account_circle D'Borneo
- calendar_month Kam, 23 Apr 2026
- visibility 51
- comment 0 komentar

Wakil Gubernur Edy Pratowo saat memberikan sambutan dihadapan wisudawan.
DAYABORNEO, Palangka Raya — Wakil Gubernur Kalimantan Tengah Edy Pratowo mendorong perubahan arah pendidikan tinggi saat menghadiri Wisuda Gelombang I Tahun 2026 di Kampus 2 Universitas Muhammadiyah Palangka Raya, Kamis (23/4/2026).
Momentum wisuda yang meluluskan 723 mahasiswa itu sekaligus diwarnai peluncuran Program D1 Vokasi Pertanian dan peletakan batu pertama pembangunan UMPR Hall. Namun bagi pemerintah daerah, inti dari agenda ini lebih dari sekadar seremoni—yakni menjawab persoalan klasik: tingginya lulusan yang belum siap kerja.
Wagub menegaskan, lulusan perguruan tinggi tidak boleh lagi hanya kuat di teori, tetapi lemah di praktik.
Rektor UMPR, Muhammad Yusuf, mengungkapkan kampusnya kini memiliki 11.600 mahasiswa aktif yang tersebar di 42 program studi dan 15 fakultas. Ia menegaskan komitmen kampus untuk menyesuaikan sistem pendidikan dengan kebutuhan zaman, termasuk memperkuat jalur vokasi.
Edy Pratowo secara terbuka menyebut pendekatan pendidikan lama sudah tidak relevan jika tidak menghasilkan keterampilan nyata. Ia menilai, daerah tidak kekurangan lulusan, tetapi kekurangan tenaga kerja yang siap pakai.
“Kita tidak bisa terus mencetak sarjana tanpa kesiapan kerja. Dunia butuh keterampilan, bukan hanya gelar,” tegasnya.
Peluncuran Program D1 Pertanian menjadi langkah konkret yang langsung menyasar sektor unggulan di Kalimantan Tengah. Program ini dirancang menampung hingga 2.000 lulusan SMA/sederajat untuk dibekali keterampilan praktis di bidang pertanian, perikanan, dan peternakan melalui Akademi Komunitas Muhammadiyah Palangka Raya.
Pemerintah berharap program ini mampu memperkuat ketahanan pangan sekaligus menekan angka pengangguran terdidik yang selama ini menjadi ironi di daerah dengan potensi sumber daya besar.
Di sisi lain, pembangunan UMPR Hall menandai ekspansi fisik kampus. Namun tantangan sebenarnya ada pada konsistensi: apakah program vokasi ini benar-benar dijalankan secara serius, atau hanya menjadi agenda peluncuran yang kuat di seremoni, tetapi lemah di implementasi.
Jika gagal dieksekusi, kritik lama akan kembali muncul—pendidikan tinggi menghasilkan lulusan, tetapi tidak menjawab kebutuhan nyata di lapangan. (red-fe)
- Penulis: D'Borneo

Saat ini belum ada komentar