Hari Kebangkitan Nasional dan Perjuangan Menjaga Identitas Budaya Dayak
- account_circle D'Borneo
- calendar_month Rab, 20 Mei 2026
- visibility 42
- comment 0 komentar

Dok. Ilustrasi.
Peringatan Hari Kebangkitan Nasional bukan lagi sekadar mengenang perjuangan melawan penjajahan di masa lalu. Di era modern saat ini, kebangkitan bangsa juga dimaknai sebagai perjuangan menjaga identitas budaya di tengah derasnya arus globalisasi dan perkembangan teknologi digital.
Di Kalimantan Tengah, semangat kebangkitan itu hidup melalui upaya masyarakat Dayak mempertahankan warisan budaya leluhur agar tidak hilang ditelan zaman. Modernisasi membawa banyak perubahan dalam kehidupan masyarakat, mulai dari pola pikir, gaya hidup, hingga cara generasi muda berinteraksi dengan budaya mereka sendiri.
Perkembangan teknologi dan budaya populer global perlahan mulai menggeser perhatian sebagian generasi muda dari akar tradisi lokal. Bahasa daerah mulai jarang digunakan di perkotaan, kesenian tradisional mulai bersaing dengan hiburan modern, sementara nilai-nilai budaya perlahan menghadapi tantangan besar untuk tetap relevan di tengah perubahan zaman.
Namun di tengah tantangan itu, Kalimantan Tengah terus menunjukkan komitmennya menjaga identitas budaya Dayak melalui berbagai kegiatan pelestarian budaya. Salah satu yang paling menonjol ialah pelaksanaan Festival Budaya Isen Mulang (FBIM), agenda budaya tahunan yang rutin digelar Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah dalam rangka memperingati Hari Jadi Provinsi.
FBIM bukan sekadar festival hiburan, tetapi telah menjadi simbol kebangkitan budaya masyarakat Dayak di era modern. Festival tersebut menjadi ruang besar memperkenalkan budaya, kearifan lokal, seni tradisi, hingga produk unggulan daerah kepada masyarakat nasional maupun dunia internasional.
Setiap tahun, ribuan masyarakat memadati arena festival untuk menyaksikan berbagai pertunjukan budaya khas Dayak. Mulai dari tari tradisional, karungut, olahraga tradisional, permainan rakyat, ritual adat, hingga pameran kerajinan lokal ditampilkan oleh seluruh kabupaten dan kota se-Kalimantan Tengah.
Filosofi “Isen Mulang” yang berarti pantang menyerah menjadi semangat masyarakat Dayak menjaga budaya mereka di tengah perubahan zaman. Nilai itu sejalan dengan semangat Hari Kebangkitan Nasional yang menekankan pentingnya persatuan, identitas, dan kebangkitan bangsa menghadapi tantangan baru.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata terus mendorong pelestarian budaya melalui pembinaan sanggar seni, pengembangan desa wisata, promosi budaya lokal, hingga pemberdayaan ekonomi kreatif berbasis budaya Dayak.
Selain menjaga warisan budaya, FBIM juga memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat. Festival tersebut membuka peluang bagi pelaku UMKM untuk mempromosikan produk khas Kalimantan Tengah seperti batik Benang Bintik, anyaman rotan, kerajinan tangan Dayak, hingga kuliner tradisional.
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif terus menjadi salah satu penggerak pertumbuhan ekonomi daerah. Karena itu, pelestarian budaya tidak hanya berkaitan dengan menjaga tradisi masa lalu, tetapi juga menjadi bagian penting pembangunan ekonomi masa depan.
Di era digital, perjuangan menjaga budaya juga memasuki ruang baru. Generasi muda Dayak mulai memanfaatkan media sosial untuk memperkenalkan tarian tradisional, musik daerah, cerita rakyat, hingga filosofi Huma Betang kepada masyarakat luas.
Huma Betang sendiri merupakan falsafah hidup masyarakat Dayak yang mengajarkan kebersamaan, toleransi, persatuan, dan hidup berdampingan dalam keberagaman. Nilai itu justru semakin relevan di tengah kehidupan modern yang penuh tantangan sosial dan derasnya arus informasi digital.
Hari Kebangkitan Nasional akhirnya menjadi momentum refleksi bahwa perjuangan bangsa hari ini tidak lagi mengangkat senjata, melainkan menjaga identitas dan jati diri bangsa agar tetap berdiri kokoh di tengah modernisasi dunia.
Dari jantung Borneo, masyarakat Dayak di Kalimantan Tengah menunjukkan bahwa budaya lokal tidak boleh hanya menjadi simbol masa lalu. Budaya harus hidup, berkembang, dan mampu bersaing di panggung dunia tanpa kehilangan akar identitasnya.
Sebab bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang maju teknologinya, tetapi bangsa yang mampu menjaga budaya dan warisan leluhurnya di tengah perubahan zaman. (red)
- Penulis: D'Borneo

Saat ini belum ada komentar