Hardiknas 2026: Saat Dunia Pendidikan Berubah Cepat, Kalteng Menjawab dengan Mimpi Satu Rumah Satu Sarjana
- account_circle D'Borneo
- calendar_month Sab, 2 Mei 2026
- visibility 126
- comment 0 komentar

Dok. Gubernur Kalteng Agustiar Sabran saat menghadiri upacara peringatan Hardiknas 2026 dihalaman kantor gubernur setempat, Sabtu (2/5/2026) pagi.
Peringatan Hari Pendidikan Nasional 2026 hadir di tengah perubahan besar dunia pendidikan. Revolusi digital, perkembangan kecerdasan buatan, hingga perubahan kebutuhan dunia kerja menuntut sistem pendidikan bergerak lebih cepat, adaptif, dan merata.
Sekolah hari ini tidak lagi cukup hanya mengajarkan membaca, menulis, dan berhitung. Pendidikan kini dituntut melahirkan generasi yang kritis, kreatif, melek teknologi, sekaligus memiliki karakter kuat.
Namun, di tengah arus perubahan itu, tantangan pendidikan Indonesia masih nyata: ketimpangan akses, kualitas guru yang belum merata, serta hambatan ekonomi yang membuat banyak anak berbakat kesulitan melanjutkan pendidikan tinggi. Di wilayah luas seperti Kalimantan Tengah, tantangan itu makin kompleks karena faktor geografis, keterisolasian wilayah pedalaman, dan keterbatasan infrastruktur pendidikan.
Di titik inilah kebijakan daerah diuji: apakah hanya menjadi penonton perubahan, atau menjadi penggerak masa depan.
Gubernur Agustiar Sabran memilih langkah kedua. Melalui program Kartu Huma Betang Sejahtera (KHBS), Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah menghadirkan intervensi nyata yang menyasar sektor pendidikan sebagai prioritas utama. Program ini dirancang untuk memastikan masyarakat, terutama keluarga kurang mampu dan warga pelosok, memiliki akses lebih luas terhadap pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan sosial.
Yang paling visioner adalah semangat “satu rumah, satu sarjana.” Gagasan ini bukan sekadar slogan politik, melainkan investasi sosial jangka panjang. Saat satu keluarga melahirkan sarjana pertama, dampaknya bukan hanya pada pendapatan rumah tangga, tetapi juga pada pola pikir, kualitas kesehatan keluarga, hingga meningkatnya mobilitas sosial antargenerasi.
Data pelaksanaan KHBS menunjukkan sekitar 35 ribu pelajar mendapat dukungan pendidikan melalui bantuan langsung dan perlengkapan sekolah, sementara program ini ditargetkan menjangkau sekitar 300 ribu penerima manfaat secara lebih luas melalui skema bantuan terintegrasi.
Dalam konteks kekinian, langkah Kalteng ini relevan. Ketika banyak daerah masih berkutat pada program jangka pendek, Kalimantan Tengah mulai membangun kapital manusia sebagai fondasi masa depan. Sebab di era kompetisi global, daerah yang unggul bukan hanya yang kaya sumber daya alam, tetapi yang mampu mencetak sumber daya manusia unggul.
Hardiknas tahun ini mengingatkan satu hal: membangun sekolah itu penting, tetapi membangun harapan jauh lebih penting. Dan di Bumi Tambun Bungai, harapan itu sedang ditanam—satu rumah, satu sarjana. (red)
- Penulis: D'Borneo

Saat ini belum ada komentar