Inflasi Kalteng Tembus 3,86 Persen, Harga Kebutuhan Pokok Terus Menekan Warga
- account_circle D'Borneo
- calendar_month Kam, 2 Apr 2026
- visibility 85
- comment 0 komentar

Suasana rilis BPS Kalteng.
DAYABORNEO, Palangka Raya – Tekanan ekonomi mulai terasa nyata di Kalimantan Tengah. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan (year-on-year/y-on-y) pada Maret 2026 mencapai 3,86 persen, sebuah angka yang menunjukkan kenaikan harga kebutuhan masyarakat belum sepenuhnya terkendali.
Kepala BPS Kalteng, Agnes Widiastuti, mengungkapkan bahwa lonjakan ini tercermin dari Indeks Harga Konsumen (IHK) yang naik menjadi 111,51. Ia menegaskan, kenaikan harga terjadi hampir di semua sektor pengeluaran masyarakat.
“Inflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Kapuas sebesar 4,20 persen, sementara yang terendah di Sukamara sebesar 2,67 persen,” ujar Agnes, Rabu (1/4/2026).
Kenaikan paling tajam terjadi pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yang melonjak hingga 13,63 persen. Kondisi ini diikuti oleh kelompok perumahan, listrik, dan bahan bakar rumah tangga yang naik 5,34 persen, serta kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang meningkat 4,81 persen.
Artinya, tekanan tidak hanya datang dari kebutuhan sekunder, tetapi juga langsung menghantam kebutuhan pokok masyarakat sehari-hari.
Tak berhenti di situ, sektor pendidikan naik 2,71 persen dan jasa makanan atau restoran naik 2,63 persen. Sementara kelompok kesehatan, transportasi, hingga pakaian juga ikut merangkak naik meski dalam persentase lebih kecil.
“Inflasi bulanan Maret tercatat 0,54 persen dan inflasi tahun kalender mencapai 1,39 persen,” tambahnya.
Meski ada sedikit penurunan pada kelompok perlengkapan rumah tangga dan sektor informasi serta jasa keuangan, penurunan tersebut dinilai belum cukup signifikan untuk meredam tekanan harga secara keseluruhan.
Situasi ini memunculkan kekhawatiran baru, terutama menjelang momentum hari besar keagamaan yang biasanya memicu lonjakan harga lebih tinggi.
BPS menyebut inflasi masih dalam kategori terkendali. Namun di lapangan, masyarakat mulai merasakan daya beli yang tergerus.
Jika tidak diantisipasi dengan langkah konkret, lonjakan harga ini berpotensi semakin menekan ekonomi rumah tangga di Kalimantan Tengah dalam waktu dekat. (red-fe)
- Penulis: D'Borneo

Saat ini belum ada komentar