Ini Penyebab Kapuas Inflasi Tertinggi 5,15 persen pada Mei 2026
- account_circle D'Borneo
- calendar_month Sel, 2 Jun 2026
- visibility 8
- comment 0 komentar

DAYABORNEO, Palangka Raya – Di tengah kabar turunnya harga sejumlah bahan pangan pada Mei 2026, Kabupaten Kapuas justru masih menyandang status sebagai daerah dengan inflasi tahunan tertinggi di Kalimantan Tengah. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan inflasi year-on-year (y-on-y) Kapuas mencapai 5,15 persen, melampaui rata-rata inflasi provinsi yang berada di angka 4,56 persen.
Ironisnya, pada periode yang sama Kapuas tercatat mengalami deflasi bulanan (m-to-m) sebesar 0,32 persen. Kondisi ini mengindikasikan bahwa meskipun harga beberapa komoditas mulai turun dalam jangka pendek, tekanan kenaikan harga selama setahun terakhir masih membebani masyarakat.
Plt Kepala BPS Kalimantan Tengah, Maria Wahyu Utami, mengungkapkan bahwa sejumlah komoditas kebutuhan pokok masih menjadi penyumbang utama gejolak harga di Kapuas.
“Komoditas yang memberikan andil terbesar terhadap inflasi antara lain beras, minyak goreng, kue basah, gula pasir, dan air kemasan,” ujarnya saat memimpin rilis statistik di Kantor BPS Kalteng, Selasa (2/6/2026).
Data BPS mencatat beras menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan andil 0,10 persen, disusul minyak goreng 0,06 persen, kue basah 0,05 persen, gula pasir 0,03 persen, dan air kemasan 0,02 persen.
Di sisi lain, penurunan harga daging ayam ras, cabai rawit, tomat, ikan patin, dan bayam menjadi faktor utama yang mendorong deflasi bulanan di Kapuas.
Meski demikian, tingginya inflasi tahunan menunjukkan persoalan stabilitas harga pangan belum sepenuhnya teratasi. Beras dan minyak goreng yang menjadi kebutuhan utama rumah tangga masih menjadi sumber tekanan terbesar terhadap biaya hidup masyarakat.
Kondisi ini menjadi peringatan bagi pemerintah daerah untuk memperkuat pengendalian inflasi dari hulu hingga hilir, mulai dari menjaga pasokan, memperlancar distribusi, hingga memastikan ketersediaan stok bahan pokok di pasar.
Dengan inflasi tahunan menembus 5 persen, Kapuas kini menghadapi tantangan serius menjaga daya beli masyarakat, terutama di tengah kebutuhan pokok yang masih rentan mengalami gejolak harga. Ke depan, efektivitas langkah pengendalian inflasi akan menjadi faktor penentu apakah tekanan harga dapat kembali berada dalam jalur yang lebih terkendali. (red-fe)
- Penulis: D'Borneo

Saat ini belum ada komentar