Hujan Buatan Dikebut, Abu Anak Krakatau Ditarget Rontok Pekan Ini
- account_circle fe
- calendar_month Sen, 7 Sep 2026
- visibility 21
- comment 0 komentar

Dok. Presiden Prabowo Subianto memimpin rapat terbatas mengenai perkembangan penanganan bencana alam
JAKARTA, Dayaborneo – Hujan buatan jadi senjata andalan pemerintah untuk membersihkan langit dari abu vulkanik Anak Krakatau. Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dikebut di beberapa titik sekaligus, dengan target abu bisa cepat luruh dan jalur penerbangan kembali normal.
Rencana ini mencuat dalam rapat terbatas yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto dari Istana Merdeka, lewat konferensi video bersama jajaran terkait penanganan bencana, Senin (7/9/2026).
Kepala BNPB Suharyanto menyebut tiga lokasi jadi basis operasi: Pondok Cabe, Kertajati, dan Semarang. Semarang disiapkan sebagai opsi cadangan jika cuaca di sekitar Selat Sunda belum bersahabat untuk penerbangan.
Kabar baiknya, kata Suharyanto, erupsi kali ini tak seganas 2018. “Menurut kami BNPB per hari ini, untuk kondisi erupsinya ini sudah menurun. Kami membandingkan kondisi 2026 ini dengan erupsi 2018, di mana di 2018 itu terjadi sama, hampir sama, tetapi tingkat erupsinya lebih tinggi daripada 2026,” ungkapnya.
Angin pun mulai berpihak. Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani memastikan arah angin di berbagai ketinggian sudah bergeser ke barat, barat laut, dan barat daya — menjauh dari kawasan padat penduduk yang sebelumnya jadi arah utama sebaran abu.
Bukan cuma itu, BMKG juga sudah mengintip cuaca beberapa hari ke depan. “Kami sudah memantau bahwa kira-kira di tanggal 9 hingga 12 September 2026 ini akan ada potensi awan dan juga hujan dengan intensitas ringan hingga sedang, khususnya di wilayah terdampak erupsi Gunung Anak Krakatau. Untuk itu nanti akan kami pertebal dengan OMC bersama dengan BNPB,” jelas Faisal.
Sinyal positif juga datang dari landasan pacu. Empat bandara — Soekarno-Hatta, Halim Perdanakusuma, Husein Sastranegara, dan Budiarto Curug — dinyatakan bebas debu vulkanik lewat uji paper test.
Soekarno-Hatta bahkan sudah lolos tes empat kali beruntun. “Untuk Soekarno-Hatta ini empat kali berturut-turut paper test-nya telah menunjukkan hasil negatif, artinya tidak ada debu vulkanik yang terpantau dari paper test ini. Hal ini terus kami komunikasikan dengan VAAC yang ada di Darwin agar sigmetnya dapat dipulihkan,” kata Faisal.
Di jalur laut, kewaspadaan tetap dijaga. Sebanyak 20 alat pemantau tsunami berjaga di Selat Sunda, dan sejauh ini belum ada tanda-tanda kenaikan muka air laut yang mencurigakan. Kapal-kapal pun dilarang mendekat dalam radius tiga kilometer dari kawah selama status gunung masih Siaga. (fe)
- Penulis: fe

Saat ini belum ada komentar