PLN Palangka Raya Dilempari Bangkai Ayam, Buntut Pemadaman Listrik Bergilir
- account_circle D'Borneo
- calendar_month 1 menit yang lalu
- visibility 3
- comment 0 komentar

Dok. Suasana Aksi di Depan Gerbang Kantor PLN Palangka Raya
DAYABORNEO, Palangka Raya – Bau busuk bangkai ayam menjadi “pesan” keras yang dibawa para peternak ke Kantor PLN Palangka Raya, Rabu (29/7/2026). Ribuan ayam mati diangkut ke lokasi dan sebagian dilemparkan ke halaman kantor sebagai bentuk protes terhadap pemadaman listrik bergilir yang disebut telah menghantam usaha peternakan.
Aksi tersebut bukan sekadar unjuk rasa. Para peternak ingin memperlihatkan secara langsung konsekuensi yang mereka tanggung ketika listrik padam berulang kali. Bangkai ayam yang mulai membusuk menjadi simbol kerugian yang menurut mereka terus membesar.
Masalahnya menjadi serius karena sebagian peternak menggunakan sistem kandang tertutup atau close house. Sistem ini membutuhkan pasokan listrik secara terus-menerus untuk menjalankan blower dan menjaga suhu serta sirkulasi udara di dalam kandang.
Ketika listrik mati selama tiga hingga enam jam dalam sehari, sistem ventilasi ikut berhenti. Suhu kandang meningkat dan ayam tidak mampu bertahan. Puluhan ribu hingga ratusan ribu ayam disebut mati, sementara kerugian peternak ditaksir mencapai ratusan juta rupiah.
“Kami bawa bangkai ayam ini supaya PLN melihat sendiri akibatnya. Ini bukan hanya soal lampu mati. Ketika listrik mati berjam-jam, ternak kami bisa mati dan usaha kami ikut hancur,” ujar salah seorang peternak.
Para peternak mempertanyakan pola pemadaman yang menurut mereka belum cukup mempertimbangkan karakteristik wilayah. Kawasan yang menjadi sentra peternakan, kata mereka, memiliki kebutuhan listrik yang jauh berbeda dengan pelanggan rumah tangga biasa.
“Kami butuh solusi, bukan sekadar jadwal pemadaman. Kalau kondisi ini terus berulang, siapa yang menanggung kerugian peternak?” kata peternak lainnya.
Mereka mendesak PLN membuka komunikasi secara langsung dengan pelaku usaha untuk mencari langkah pencegahan. Peternak berharap ada kebijakan yang mempertimbangkan kawasan dengan aktivitas produksi yang sangat bergantung pada listrik.
Aksi melempar bangkai ayam ke halaman PLN pun menjadi gambaran betapa frustrasinya para peternak. Ketika listrik padam, kerugiannya tidak berhenti pada alat elektronik yang mati atau aktivitas usaha yang tertunda.
Di kandang close house, listrik padam bisa berarti ayam mati. Dan bagi peternak, ayam mati berarti modal ikut terkubur.
Kini para peternak menunggu satu hal dari PLN: bukan sekadar penjelasan, tetapi solusi yang benar-benar bisa mencegah kerugian kembali terjadi. (red-fe)
- Penulis: D'Borneo

Saat ini belum ada komentar