Ekspor Batu Bara Indonesia Anjlok 20 Persen
- account_circle D'Borneo
- calendar_month Rab, 7 Jan 2026
- visibility 183
- comment 0 komentar

Foto ilustrasi.
DAYABORNEO, Jakarta – Kinerja ekspor batu bara Indonesia sepanjang Januari hingga November 2025 mengalami penurunan tajam. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor komoditas batu bara terkoreksi hingga 20,27 persen secara kumulatif, menjadi US$22,17 miliar atau setara Rp371,3 triliun dengan asumsi kurs Rp16.748 per dolar AS.
Angka tersebut terpaut cukup jauh dibandingkan capaian periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai US$27,8 miliar. Penurunan ini sekaligus menandai melemahnya salah satu komoditas andalan ekspor nasional.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, menyampaikan bahwa penurunan nilai ekspor batu bara juga sejalan dengan susutnya volume pengiriman. Secara kumulatif, volume ekspor batu bara turun 3,9 persen menjadi 354,64 juta ton, lebih rendah dibandingkan Januari–November 2024 yang tercatat 369,31 juta ton.
“Secara kumulatif ekspor batu bara turun 20,27 persen,” ujar Pudji dalam konferensi pers daring, Senin (1/5/2026).
BPS mencatat pelemahan kinerja ekspor batu bara berkorelasi dengan menurunnya permintaan dari dua pasar utama, yakni China dan India. Nilai ekspor bahan bakar mineral (HS 27) ke China tercatat anjlok 27,18 persen menjadi US$9,16 miliar, sementara ekspor ke India turun 24,70 persen ke level US$4,89 miliar.
Di sisi lain, ekspor nonmigas ke China justru didominasi oleh komoditas besi dan baja dengan nilai mencapai US$58,24 miliar, menunjukkan pergeseran komposisi perdagangan.
Meski batu bara melemah, BPS mencatat sejumlah komoditas unggulan nonmigas justru menunjukkan tren positif. Ekspor besi dan baja meningkat 9,12 persen menjadi US$25,57 miliar, sementara ekspor CPO dan turunannya melonjak signifikan sebesar 19,15 persen ke level US$21,63 miliar.
Secara keseluruhan, neraca perdagangan Indonesia pada November 2025 masih mencatat surplus sebesar US$2,66 miliar, menandai surplus selama 67 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Surplus ini terutama ditopang oleh sektor nonmigas sebesar US$4,64 miliar, meskipun sektor migas masih mengalami defisit US$1,81 miliar akibat impor minyak mentah dan hasil minyak.
BPS mengingatkan, meski surplus masih terjaga, terdapat risiko penyusutan ke depan. Dorongan pemerintah untuk mengejar pertumbuhan ekonomi berpotensi meningkatkan impor, yang dapat menekan kinerja neraca perdagangan jika tidak diimbangi dengan penguatan ekspor bernilai tambah. (red-fe)
- Penulis: D'Borneo

Saat ini belum ada komentar