Rahmanto Dorong Konsolidasi Alumni PTKIN, Serukan Peran Strategis untuk Umat dan Bangsa
- account_circle D'Borneo
- calendar_month Jum, 24 Apr 2026
- visibility 54
- comment 0 komentar

Dok. Ketua IKA UIN Palangka Raya, Rahmanto, S.HI., M.H., saat mengikuti Pertemuan Nasional Ikatan Keluarga Alumni Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (IKA PTKIN) se-Indonesia di Jakarta
DAYABORNEO, Jakarta — Ikatan Keluarga Alumni Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (IKA PTKIN) menegaskan pentingnya konsolidasi nasional alumni sebagai kekuatan strategis dalam menjawab persoalan keumatan dan kebangsaan. Penegasan ini mengemuka dalam Pertemuan Nasional IKA PTKIN se-Indonesia yang berlangsung pada 23–25 April 2026 di Hotel Luminor Pecenongan, Jakarta Pusat.
Forum tersebut menjadi ruang refleksi sekaligus perumusan arah gerakan alumni PTKIN di tengah meningkatnya kompleksitas persoalan sosial, keagamaan, dan kebangsaan. Sedikitnya, forum ini mengidentifikasi lima masalah utama keumatan dan empat masalah utama kebangsaan yang dinilai membutuhkan intervensi kolektif berbasis pengetahuan dan jejaring sosial.
Ketua IKA UIN Palangka Raya, Rahmanto, S.HI., M.H., menegaskan bahwa alumni PTKIN tidak boleh lagi berada pada posisi pasif. “Alumni PTKIN harus keluar dari zona simbolik. Kita memiliki jejaring, otoritas keilmuan, dan legitimasi moral. Jika tidak dikonsolidasikan, potensi ini akan tercerai-berai dan kehilangan daya pengaruh,” ujarnya di sela kegiatan.
Menurut Rahmanto, tantangan yang dihadapi umat saat ini tidak lagi bersifat tunggal, melainkan multidimensional. Mulai dari menguatnya politik identitas, ketimpangan pembangunan, hingga disinformasi digital yang menggerus kohesi sosial. “Kita menghadapi situasi di mana fragmentasi sosial semakin nyata, sementara ruang dialog justru menyempit. Di sinilah alumni PTKIN harus hadir sebagai penyeimbang,” katanya.

Dok. Ketua IKA UIN Palangka Raya, Rahmanto, S.HI., M.H., didampingi Sekretaris IKA UIN Palangka Raya, Abdul Jamil, M.Pd., mengikuti Pertemuan Nasional Ikatan Keluarga Alumni Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (IKA PTKIN) se-Indonesia di Jakarta
Hal senada disampaikan Sekretaris IKA UIN Palangka Raya, Abdul Jamil, M.Pd., yang menyoroti pentingnya integrasi antara dunia akademik dan kebijakan publik. Ia menilai selama ini terdapat kesenjangan antara produksi pengetahuan di lingkungan PTKIN dengan implementasi kebijakan di tingkat praktis.
“PTKIN memiliki kekuatan besar sebagai pusat produksi gagasan dan riset. Namun, tanpa konsolidasi dan integrasi, hasil riset tersebut sering berhenti sebagai wacana akademik. Ke depan, alumni harus mampu menjembatani riset menjadi kebijakan publik yang berdampak nyata,” ujarnya.
Dalam forum tersebut, persoalan keumatan yang mengemuka antara lain mencakup munculnya tafsir keagamaan eksklusif dan intoleran, lemahnya moderasi beragama, serta belum optimalnya pengelolaan ekonomi umat berbasis zakat, wakaf, dan instrumen keuangan syariah. Sementara itu, pada ranah kebangsaan, isu yang disorot meliputi polarisasi politik identitas, ketimpangan pembangunan antarwilayah, disinformasi digital berbasis SARA, serta lemahnya tata kelola dan integritas kelembagaan.
Sebagai respons, forum ini mendorong pembentukan Forum Nasional IKA PTKIN sebagai wadah konsolidasi strategis. Forum tersebut diharapkan menjadi pusat integrasi jejaring alumni lintas sektor sekaligus berfungsi sebagai policy think tank dalam merumuskan kebijakan berbasis riset.
Pertemuan nasional ini menjadi penanda awal upaya sistematis dalam mengonsolidasikan potensi alumni PTKIN. Di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks, alumni didorong tidak hanya menjadi bagian dari sejarah institusi, tetapi juga menjadi aktor utama dalam membentuk masa depan umat dan bangsa. (red)
- Penulis: D'Borneo

Saat ini belum ada komentar