NTP Tembus 136,33! Sinyal Kuat Daya Beli Petani Kalteng Mulai Bangkit
- account_circle D'Borneo
- calendar_month Sel, 3 Mar 2026
- visibility 218
- comment 0 komentar

Kepala BPS Kalteng, Agnes Widiastuti saat menyampaikan rilis resmi BPS.
DAYABORNEO, Palangka Raya — Kabar baik datang dari sektor pertanian Kalimantan Tengah. Nilai Tukar Petani (NTP) Februari 2026 menembus angka 136,33 atau naik 1,23 persen dibanding Januari yang berada di posisi 134,67. Angka ini menjadi sinyal tegas bahwa daya beli petani Kalteng mulai menguat.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kalteng, Agnes Widiastuti, menyampaikan lonjakan tersebut dalam rilis resmi, Senin (2/3/2026).
Agnes menegaskan NTP merupakan indikator utama untuk membaca kemampuan petani dalam memenuhi kebutuhan hidup sekaligus menutup biaya produksi.
“NTP adalah perbandingan antara indeks harga yang diterima petani dengan yang dibayar petani. Ketika NTP naik, artinya posisi tawar dan daya beli petani membaik,” jelas Agnes.
Kenaikan NTP Februari 2026 tidak terjadi tanpa sebab. Subsektor hortikultura melonjak tajam 4,09 persen dan menjadi motor utama penguatan. Tanaman perkebunan rakyat ikut naik 1,37 persen, peternakan bertambah 0,76 persen, serta tanaman pangan tumbuh 0,26 persen. Data ini menunjukkan denyut sektor pertanian Kalteng masih bergerak positif di tengah dinamika harga.
Tak hanya itu, Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) juga terdongkrak 1,41 persen dari 140,39 menjadi 142,37. Kenaikan NTUP mengindikasikan usaha pertanian di level rumah tangga semakin solid dan memberi ruang keuntungan lebih besar bagi petani.
Meski demikian, tekanan biaya hidup tetap ada. Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) perdesaan naik 0,14 persen, dipicu kenaikan harga makanan dan minuman 0,18 persen, pakaian dan alas kaki 0,20 persen, serta perawatan pribadi dan jasa lainnya yang melonjak 1,16 persen.
BPS menegaskan akan terus memantau perkembangan NTP sebagai barometer kesejahteraan petani. Angka Februari ini menjadi catatan penting: ketika hasil produksi naik lebih cepat dari beban biaya, petani punya napas lebih panjang. Tantangannya kini, bagaimana tren positif ini dijaga agar benar-benar berdampak nyata bagi kesejahteraan petani di Bumi Tambun Bungai. (red-fe)
- Penulis: D'Borneo

Saat ini belum ada komentar